Awasi Cukai Minuman Beralkohol, Ditres Narkoba Polda Sulut Gelar Diskusi

by
Dir Res Narkoba Polda Sulut Kombes Pol Eko Wagiyanto memyampaiman materi pada Diskusi. (Foto: Ishak/KM)

Manado – Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulut menggelar Diskusi Pengawasan Cukai Minuman Beralkohol dan Pendapatan Daerah serta Implementasinya terhadap Kamtibmas di Wilayah Sulut.

Kegiatan tersebut digelar di Swiss-bel Maleosan Manado pada Kamis (10/10/2019), dibuka oleh Wakapolda Sulut Brigjen Pol Alexsander Mandalika, dan dihadiri oleh para pejabat utama (PJU) Polda, tokoh masyarakat, perushaan minuman beralkohol, aktifis, LSM, Tokoh Pemuda, Instansi terkait, Bea Cukai, pejabat TNI, dan para pemamku kepentingan lainnya

Pada Diskusi Panel tersebut menghadirkan para panelis dari para pamangku kepentingan, yaitu Direktur Resnarkoba Polda Sulut, Kabid Perdagangan Dalam Negeri Disperindag Sulut, Kabid Penindakan dan Penyidikan Kantor Bea Cukai Setiawan, Akademisi Unsrat Dr. Shirly Goni, S.Sos, M.Si dan perwakilan petani cap tikus Dr. Fanly Pangemanan MSi.

Diresnarkoba Polda Sulut Kombes Pol Eko Wagiyanto mengatakan, untuk pengawasan pihak kepolisian tidak bisa bekerja sendiri karena itu perlu mendapat dukungan dari pihak lain, seperti Sat Pol PP, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, LSM dan pihak lainnya, serta Balai POM, sehingga jika terjadi pelanggaran pihaknya akan memberikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. “Dari Ditresnarkoba tetap melakukan pengawasan mulai dari produksi, distribusi hingga peredaran di masyarakat, jika terjadi penyimpangan maka kami akan melakukan tindakan sesuai dengan hukum dan porsi dari pihak kepolisian,” tandasnya.

Kombes Eko mengungkapkan, dari diskusi tadi pihak bea cukai tidak melakukan penutupan pabrik, tapi memberikan dukungan terutama soal krearifan lokal, namun jika beredar dan menyalahi izin soal cukai maka itu yang ditindak dan diberikan sanksi.

Sementara itu pada kesaksian anak Petani Cup Tikus Dr. Fanly Pangemanan MSi menyampaikan, bahwa dirinya bisa sukses dan berhasil hingga saat ini berkat hasil penjualan minuman cup tikus dari orang tuanya, karena itu Ia meminta agar semua stakholder bisa memperhatikan hal ini dan tidak mengemyampingkan minuman kearifan lokal yang sudah berjalan secara turun tewurun daru tahun 1978 silam.

Penulis: Ishak Kusrant

Leave a Reply

Your email address will not be published.