Bangun Tambak Udang, Direktur PT ABSM Klarifikasi Soal Dugaan Pemotongan Mangrove

by
Frangky Padang Bastian Direktur PT ABSM saat melakukan Sosialisasi pembangunan tambak udang di Desa Sarawet, Likupang Timur. Foto: Istimewa

Manado – PT Anugerah Bumi Sempu Mandiri (ABSM) membantah Tim yang mengerjakan lokasi pembangunan tambak udang di lapangan melakukan penebangan magrove di kawasan tambak udang Desa Sarawet Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara.

Menurut Frangky Padang Bastian Direktur PT ABSM kepada kabarManado.com, lahan yang diberikan pemerintah Kabupaten Minut untuk Hak Guna Usaha (HGU) seluas 62 Ha, dari 100 Ha yang diusulkan. Seiring perjalanan pembangunan tambak udang tersebut, pihak PT ABSM telah memberikan bantuan kepada sejumlah tempat Ibadah dan membantu pembangun Balai Desa Sarawet meski lokasi pembibitan udang belum beroperasi.

Menyangkut lokasi pembangunan tambak udang, pihak PT ABSM tidak melakukan penebangan magrove seperti yang dituduhkan kepadanya, karena yang mengerjakan awal pembangunan tambak udang adalah pekerja yang telah disiapkan oleh Pihak Hukum Tua sehingga ketika hal tersebut dilaporkan kepadanya, PT ABSM kemudian mengambil alih pekerjaan dan melanjutakan dengan Tim yang baru agar proses pengerjaannya benar-benar baik dan berjalan sesuai prosedur yang berlaku dan tidak merusak kawasan hutan lindung. “Jadi kami tidak mungkin melakukan penebangan magrove, karena pekerja awal dari Hukum Tua yang menyiapkan. Apa lagi kami tahu pohon tersebut adalah tanaman liar,” ucap Frangky Kamis (29/8/2019).

Pengusaha asal Sangihe tersebut bercerita, tambak udang yang akan dibangun ini akan beroperasi selama 35 tahun, sehingga akan membawah dampak positif bagi masyarakat sekitar yang akan menjadi pekerja di lokasi, sehingga bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Kalau tambak udang sudah berdiri dan beroperasi kami yakin masyarakat akan sejahtera,” ujarnya.

Lokasi yang dikeluhakan Pelapor. Foto: Istimewa.

Sementara Kasat Reskrim Polres Minut AKP Nofry Maramis mengatakan, laporan kasus ini kemungkinan akan di SPK karena dokumen yang dimiliki PT ABSM semuanya lengkap, sedangkan pihak terlapor tidak memiliki data dan dokumen jelas. “Dari penyelidikan, dokumen milik terlapor semuanya lengkap, sedangkan pelapor tidak dapat menunjukan bukti pengrusakan mangrove, sehingga kami akan menggelar kasus ini apakah akan dihentikan atau dilanjutkan,” terang Maramis.

Seperti diketahui PT ASBM dilaporkan ke Polres Minut karena diduga pekerja yang dikontrak telah memotong pohon mangrove, namun pihak perusahaan membantah hal tersebut.

Penulis: Ishak Kusrant
Editor: Ishak Kusrant

Leave a Reply

Your email address will not be published.