Belajar Secara Luring, Ini Cara Guru Ocen Hilda Lun Mengajar Siswa Tunarunggu

by



Foto : Ocen Hilda Lun Guru Bahasa Isyarat saat pembelajaran luring pada siswa Tunarunggu Meldo Malintoy di Rumahnya Kelurahan Motto Rabu (07/10).

Bitung, kabarmanado.com – Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, menjadi tantangan tersendiri bagi guru di SLB Trikora Indah Bitung.

Dimana, pembelajaran daring dan luring berbeda dengan sekolah yang lain. Pasalnya, Sekolah Luar Biasa (SLB) Trikora Indah Bitung harus bekerja maksimal dalam pembelajarannya agar para siswa berkebutuhan khusus ini bisa terlayani dengan baik.

SLB ini, melayani anak yang berkebutuhan khusus yakni tunarungu 14 orang, tunagrahita 23 orang, tunadaksa 3 orang dan autis ada 3 orang.

Paling banyak siswa disekolah ini, belajar luring dan hanya sebagian kecil yang daring, ini karena selain tidak terjangkau jaringan internet, juga mereka tidak memiliki HP karena orang tua mereka kurang mampu.

Siswa yang hanya bisa belajar luring adalah mereka tinggal di Kecamatan Lembe Utara dan Lembe Selatan yang tidak terjangkau jaringan Internetnya.

Untuk mengatasi itu, salah satu guru Ocen Hilda Lun turun langsung kerumah siswa tunarunggu tersebut dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat.

Foto : Ocen Hilda Lun Guru Bahasa Isyarat saat kerumah siswa menaiki sepeda motor menempuh 45 kilo meter dalam pembelajaran luring di Rumah siswa Kelurahan Motto Rabu (07/10).

“Ya tugas saya setiap hari rabu turun kerumah mereka untuk mengajar secara luring dan saya memakai masker begitu juga para siswa serta mencuci tangan sebelum masuk rumah dan jarak duduk diatur berjauhan,” Kata Ocen Hilda Lun guru bahasa isyarat ini Rabu (07/10).

Guru Ocen Hilda Lun yang merupakan seorang tunarunggu ini menjelaskan dengan bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Kepala SLB Trikora Indah Bitung, Siti Aisa Tanang, S.Pd, M.Pd mengatakan, di Desa Motto Kecamatan Lembe Utara Kota Bitung ini tidak memiliki jaringan internet.

” Agar bisa sampai kesini maka Saya harus menempuh jarak 40 – 50 Kilometer dengan sepeda motor dan harus melewati jalan yang bergunung dan menurun tajam serta berlubang,”katanya.

Meski begitu, halangan tersebut bukan berarti membuat KBM berhenti. Ocen pun berupaya agar siswanya tetap di rumah saja. Dari sekolah, guru  membuat rangkuman tugas selama satu minggu. Setelah itu, Ocen harus mengantarkan tugas tersebut ke rumah wali murid yang tidak memiliki jaringan internet.

“Saya bawakan tugas mereka sambil menjelaskannya dan mereka kerjakan selama 1 minggu. Nanti kalau sudah (selesai), saya ambil lagi ke rumah mereka,” terangnya.

Ya saat ini saya mengambil tugas ada satu Siswa tunarunggu di Kelurahan motto
Yang bernama Meldo Malintoy.

Kata Ocen, anak ini adalah tunarunggu dimana dia memiliki hambatan dalam fungsi pendengarannya.

Memang, diselimuti rasa waswas karena virus korona, tidak ada pilihan lain bagi Ocen. Satu minggu sekali, dia bolak-balik dari rumahnya ke kediaman anak didiknya. Biasanya, saat pergi, dia mengendarai sepeda motor sendirian.

“Sebenarnya agak cemas juga. Karena ada virus. Tapi harus saya lakukan demi anak-anak,” ungkap Ocen. Apalagi, tidak semua alamat sang murid dekat dari rumahnya. Yang paling jauh beralamat di Kelurahan Motto, Kecamatan Lembe Utara.

Penulis : Julkifli Madina

tenor