Dia Si Pembela Yang Tersisih

oleh -869 views
Pdt Ruth Ketsia Wangkai MTh.

SUDAH menjadi panggilan hidup untuk hadir membela hak-hak kelompok termarginalkan. Itu menjadi sebuah jawaban mengapa Pdt Ruth Ketsia Wangkai MTh bergeming ketika stigma sebagai pendeta pro Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) dilekatkan pada dirinya.

Kisah Ruth berawal saat mereka menggelar kegiatan Konsultasi Teologi Rahim di Tomohon, Sulawesi Utara pada tahun 2013. Sebagai Ketua Badan Pengurus Nasional (BPN) Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (Peruati), pendeta dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) ini juga mengundang pengurus Peruati dari berbagai daerah di Indonesia. Selain pengurus Peruati, juga hadir komunitas LGBT, ada sekitar sepuluh orang. Ketika itu ada sesi khusus waktu itu disampaikan Pendeta Steven Sulaiman dari STT Jakarta.

Nah, isu tentang LGBT apalagi dengan kehadiran komunitas LGBT saat kegiatan itulah kemudian memicu kontroversi. Forum terbelah menjadi dua. “Ada pendeta yang menerima komunitas LGBT sebagai ciptaan Tuhan, ada yang menilai itu penyimpangan,” ujarnya.

Setelah kegiatan itu, lanjut Ruth, pihaknya terdorong untuk melihat lebih dekat siapa komunitas LGBT ini. Bagi Peruati, komunitas LGBT diterima sebagai subjek dan mulai membangun hubungan kerjasama. Pendeta yang pernah studi di Dar Comboni Institute, Cairo, Mesir ini mengatakan, kedekatan antara Peruati dengan komunitas LGBT dibangun melalui kerja-kerja advokasi. Kemudian mengenal secara personal. Peruati juga membangun jejaring lintas daerah seperti Manado, Jakarta dan beberapa kota di Sumatera.

Setelah kejadian 2013, serta kerja-kerja advokasi bersama komunitas LGBT, banyak pihak kemudian memilih berseberangan dengan Ruth. Berawal dari kegiatan Konsultasi Teologi Rahim pada 2013, berbuntut panjang hingga sekarang. Dia mengatakan, lebih banyak kontra terutama dari teman-teman sesama pendeta di jemaat.
Stigma itu bahkan terus melekat ketika Sinode Am Gereja (SAG) Sulutteng hendak membuat Festival Keragaman di Kota Bitung. Oleh salah satu pengurus SAG Sulutteng, disampaikan bahwa keragaman tidak hanya mencakup agama, suku, dan budaya, melainkan juga gender. “Ketika para pendeta mendengar kata LGBT, seolah jadi momok buat mereka. Langsung mereka ingat saya. Ada yang mengatakan memang Ruth itu pro LGBT,” tutur dia.

Namun menurut dia, sudah menjadi panggilan hati dan jiwa. Juga tidak mungkin untuk keluar dari komiten itu, apalagi siapa lagi yang mau membela komunitas LGBT. Pendeta kelahiran Minahasa ini mengatakan, LGBT merupakan kelompok yang terpinggirkan, sama seperti apa yang dialami kaum perempuan waktu lalu ketika menjadi kelompok marginal. Sebagaimana dulu, kata Ruth, masa sekarang ketika perempuan menikmati kesetaraan, justru balik menindas kelompok lain seperti LGBT.

Terkait pandangan beberapa kalangan bahwa keberadaan komunitas LGBT ini bisa “disembuhkan” seperti melalui terapi konversi, Ruth menyatakan pendapat yang berbeda. Dia menegaskan, penyembuhan lewat terapi konversi itu tidak bisa.
Ruth mencontohkan kisah seorang gay yang terpaksa menjalani terapi konversi untuk mendapat “kesembuhan” sebagai seorang laki-laki heteroseksual. Berada di bawah tekanan, dihantui dosa melalui ajaran gereja, gay itu mengikuti terapi tersebut. Ada melalui pastoral konseling, juga latihan fisik tertentu. Dia mengatakan, latihan fisik untuk waria agar berubah menjadi laki-laki dengan ciri fisik yang maskulin, tidak bisa dilakukan. “Tidak bisa. Itu intrinsik ada dalam diri. Kalau berubah, itu karena ketakutan, karena ada paksaan. Tapi akan kembali lagi ekspresinya,” ujar Ruth.(***)

Penulis: Yoseph E Ikanubun

Tulisan ini merupakan hasil liputan terkait keberagaman gender dalam perspektif HAM, sebuah fellowship yang ddanai AJI Indonesia dan Ardhanary Institute

tenor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.