DLH Sulut Gandeng Manengkel Solidaritas Tanam Mangrove di Bahowo

by

Manado – Mangrove bahowo menjadi perisai paling ampuh dalam menjaga wilayah pesisir di daerah Bahowo Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken Kota Manado, Sulawesi Utara.

Kelompok tunas baru Bahowo adalah kelompok yang mendapat dukungan langsung dari Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Provinsi Sulawesi Utara yang mempunyai andil besar dalam pelestarian mangrove.

Untuk terus melestarikan mangrove Bahowo, kali ini DLHD Provinsi Sulut bersama Relawan Konservasi dan Manengkel Solidaritas akan menanam mangrove di wilayah tersebut.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Sulut, Ir Marly Gumalag mengatakan, penanaman mangrove akan dilakukan di Bahowo pada Sabtu 11 Mei 2019. “Ada 2000 bibit pohon mangrove yang akan kami tanam bersama Relawan Konservasi Sulut dan masyarakat Bahowo serta para pemerhati lingkungan,” ungkap Gumalag

Kepala DLHD Sulut Ir Marly Gumalag.

Lanjut Marly, kegiatan ini juga adalah program dari DLH Sulut dalam pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan tahun 2019 dan ini sesuai Visi Misi Pemerintah Sulut dimana sudah jelas yaitu pemerintah sangatlah peduli akan lingkungan hidup.

“Sesuai misi ketiga yaitu mewujudkan Sulawesi Utara sebagai destinasi investasi dan pariwisata yang berwawasan lingkungan serta misi kelima memantapkan pembangunan infrastruktur yang berlandasan prinsip pembangunan berkelanjutan dan ini semua diimplementasikan dalam 14 program dan 60 kegiatan dari DLHD Sulut untuk tahun 2019 ini,” jelasnya.

Kegiatan ini adalah Bantuan untuk pelestarian mangrove. kata Gumalag, sampai saat ini sudah dilakukan penanaman mangrove dan edukasi pada masyarakat pesisir bagaimana bisa menjaga dan melestarikan mangrove dan penanaman yang akan dilakukan di Bahowo adalah bukti kepedulian Pemerintah.

“Pemerintah juga melibatkan dunia usaha dalam melakukan kegiatan yang ada juga kelompok masyarakat, instansi terkait dan masyarakat lokal dan sekitar bulan agustus 2018 nanti kita juga melakukan penanaman mangrove di Desa Bahoi Likupang Barat, Minahasa Utara,”

Khusus di Kampung Bahowo lanjut Gumalag, Pemerintah sudah melakukan edukasi pada mereka sejak 2016 silam

“Kita melakukan edukasi kepada masyarakat pesisir dengan melibatkan kelompok mangrove tunas baru bahowo dan melakukan work shop pengelolaan sampah dalam kawasan konservasi serta melakukan penguatan ekonomi masyarakat pesisir yang berbasis konservasi,” ungkapnya.

Lanjut Dia, Penanaman mangrove di lokasi kelompok mangrove tunas baru bahowo adalah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan serta akan ada perjanjian kerjasama dengan Kelompok, yang isinya akan mengedepankan pelestarian mangrove park Bahowo dan itu sampai pada monitoring akan dilakukan.

Kata Gumalag, Mangrove kian tergerus, adapun langkah yang dilakukan Pemerintah saat ini menurut Gumalag sampai saat ini terus melakukan edukasi melalui sosialisasi kepada masyarakat.

“Kita melakukan edukasi melalui sosialisasi, melalui work shop ataupun bimbingan teknis kepada semua pihak yang terkait untuk menyampaikan pentingnya mangrove bagi kehidupan manusia, serta melakukan aksi penanaman dengan melibatkan publik sector, private sector, voluntary sector, mutual air dan informal sector serta terus melakukan monitoring,” ungkapnya.

Adapun program jangka panjang Pemerintah terkait dengan pelestarian pembangunan yang berkelanjutan menurut Marly Gumalag, Rencananya Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Sulawesi Utara tahun 2005-2025 yang didalamnya untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dimana termasuk juga dalam pengembangan pelestarian lingkungan hidup terutama pelestarian mangrove itu sendiri.

“Melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan yang dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2016-2021 Provinsi Sulawesi Utaradan diaktualisasi setiap tahun dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah dengan 10 prioritas pembangunan Daerah yang termuat dalam Rencana Kerja Perangkat Daerah tahun 2019,” kata dia.

Sementara itu melalui Ketua Umum Manengkel Solidaritas Sulut, Sella Runtulalo mengatakan, mangrove adalah satu ekosistem pohon yang menyerap karbon terbesar dari pohon lainnya dan jika Manado kekurangan hutan mangrove, ini tidak baik bagi manusia.

“Kami sejak 2016 bekerja khusus membantu masyarakat pesisir dengan memberikan pemahaman dalam melestarikan dan menjaga mangrove. Kegiatan itu dilakukan atas kerjasama dan dukungan dari PT Tirta Investama Airmadidi (AQUA) Danone,” jelasnya.

Dia menambahkan, Manengkel Solidaritas bekerja membantu masyarakat pesisir dalam membangun desa mereka dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan mampu mengembangkan tanpa merusak lingkungan, dan semua itu dilakukan atas dukungan dari PT Tirta Investama Airmadidi.

“Dalam pelestarian mangrove, Mangengkel Solidaritas membantu masyarakat membentuk kelompok, dimana disitu mereka difasilitasi untuk pendapatan ekonomi melalui pembibitan mangrove, pelatihan, pembuatan bedeng dan membantu memasarkan,” ungkapnya.

Selain membantu menyediakan usaha pembibitan kata Runtulalo, Manengkel juga melakukan pendidikan lingkungan bagi anak – anak pesisir yang ada di Bahowo dengan tujuan untuk memutuskan mata rantai pelaku perusakan ekosistem pesisir termasuk mangrove.

“Kami juga telah melakukan beberapa pelatihan bagi masyarakat baik pelatihan pembibitan, pelatihan ekowisata, homestay dan tour guide, hingga kelompok masyarakat bisa mandiri” lanjutnya.

Jika mangrove hilang kata Runtulalo, dimana akan sangat mempengaruhi mata rantai ekosistem pesisir dan laut dan tidak ada lagi dapat menahan air asin yang akan masuk kedaratan dan akan kehilangan benteng untuk menahan badai, tsunami dan lainnya.

Penuli: Zulkifli Madina
Editor: Ishak Kusrant

tenor

Leave a Reply

Your email address will not be published.