Dwina Kristianty, Pencegahan Penyebaran COVID-19 Dimulai Dari Diri Sendiri

by

Oleh Dwina Kristianty
Mahasiswa Jurusan Biologi angkatan 2019 FMIPA UNSRAT

(Dibimbing oleh Prof. Dr. Trina Tallei)

Sejak awal tahun 2020, dunia menghadapi kesehatan darurat yang parah karena pandemi COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2).

Virus ini menyerang sistem pernapasan dan bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Kasus infeksi virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China, pada akhir Desember 2019 (www.alodokter.com/virus-corona).

Hingga saat ini (24/4/2020), kasus COVID-19 di Indonesia sudah menyentuh angka 7.775 dengan jumlah kematian 647 orang dan dinyatakan sembuh sebanyak 960 orang.

Pemerintah terus mendapat kritikan sebab dinilai tidak siap dalam menangani COVID-19. Berbagai masalah datang seperti sulitnya pelayanan untuk memeriksakan diri, pasien dalam pengawasan (PDP) tidak dilayani secara optimal, hingga berimbas pada sektor ekonomi yang membuat Presiden enggan memberlakukan lockdown.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memutus penyebaran COVID-19, salah satunya dengan melakukan pembatasan sosial atau social distancing.

Dalam konferensi pers di Istana Bogor (15/3/2020), Presiden Indonesia Joko Widodo menyampaikan anjuran untuk kerja di rumah (work from home). Tak hanya itu, Kementerian BUMN mengimpor 20 mesin Polymerase Chain Reaction (PCR) dan menargetkan untuk melakukan 300.000 tes dalam sebulan (www.kompas.com).

Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap upaya pemerintah tersebut? Kenyataannya tak sedikit masyarakat yang abai terhadap upaya pemerintah.

Ketika pemerintah menganjurkan untuk tetap berada di rumah, masih banyak masyarakat yang pergi ke mal untuk sekedar ‘ngopi’. Ketika para pemuka agama menghimbau untuk melakukan ibadah di rumah masing-masing, masyarakat justru menyatakan protes keras disertai makian.

Masyarakat Indonesia juga mengalami buying-attack dengan berbondong-bondong membeli alat kesehatan seperti masker, hand-sanitizer, alcohol swab, sarung tangan medis, alcohol, hingga alat pelindung diri (APD) yang seharusnya dipakai oleh tenaga medis.

Lonjakan drastis kebutuhan alat-alat kesehatan tersebut mengakibatkan kelangkaan serta kenaikan harga yang tinggi.

Kelangkaan APD tentu membahayakan keselamatan tenaga medis di garis depan serta menaikkan potensi tertular COVID-19. Pemerintah pun mengambil langkah tegas dengan memberi sanksi kepada oknum-oknum penimbun alat kesehatan.

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto pada awal Maret lalu menyatakan bahwa COVID-19 adalah penyakit yang bersifat self-limiting disease.

Artinya, virus ini terus memperbanyak diri dalam tubuh manusia, tapi kemudian memperlambat lajunya atau berhenti pada titik tertentu dan umumnya pasien bisa sembuh bila memiliki sistem kekebalan tubuh baik (www.hellosehat.com).

Garis pertahanan pertama dalam melawan patogen atau parasite pemicu penyakit, serta penentu daya tahan tubuh seseorang adalah mikrobioma yang hidup pada tubuh manusia.

Untuk mendukung kinerja mikrobioma tersebut, Sheena Cruickshank, professor immunologi di Universitas Manchester, merekomendasikan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat, kacang-kacangan, dan makanan fermentasi.

Hindari paparan sinar UV yang tinggi dan overwashing dengan strong soap untuk melindungi mikrobioma yang ada di kulit. Tak lupa untuk berolahraga, tidur yang cukup, kelola stress, serta mengurangi konsumsi alkohol & rokok.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah tetap di rumah dan ikuti aturan pemerintah. Virus ini menjangkit siapapun, jangan merugikan orang lain karena keegoisan diri sendiri untuk sekedar ‘ngopi’ di mal.

Gunakan masker saat terpaksa bepergian terutama jika sakit. Rajin mencuci tangan dan hindari menyentuh wajah. Pencegahan harus dimulai dari diri sendiri.

Yuk, cegah penyebaran COVID-19!
#StayAtHome
#CegahPenyebaranCovid19