Kemendikbud RI Pantau Program Pertukaran Kepsek di Sulut

by
Yusuf Budi Sartono (kanan) bersama Joke Lendo dan Helmy Koagouw

Manado – Upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk meningkatkan pemerataan mutu pendidikan di Indonesia adalah sangat tepat. Dan Program Pertukaran Kepala Sekolah memang adalah solusinya.

Di Sulawesi Utara, ada dua sekolah yang dipilih menjadi sekolah mitra yaitu SD Negeri 43 Manado dan SD Negeri 12 Manado. Sedangkan sekolah imbas dipilih sekolah Dasar di kabupaten Talaud dan Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Yusuf Budi Sartono saat mengunjungi kedua sekolah tersebut, Rabu (12/09/2018) menyebutkan, program itu merupakan bagian implementasi dari nawacita nomor tiga dan lima. Yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dan meningkatkan kualitas hidup manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan. “Saya kesini dalam rangka untuk melakukan supervisi hasil program pertukaran kepala sekolah dan on the job learning atau OJL bagi sekolah mitra ke sekolah imbas,” ungkapnya.

 

Kata dia, program itu juga bertujuan untuk menjadikan pemerataan mutu di sekolah, sebagaimana sekolah imbas sama kualitasnya dengan sekolah mitra. “Bukan hanya kepsek, tetapi juga melibatkan pengawas sekolah sebagi bagian dari penjamin mutu di sekolah. Dan juga guru serta orang tua dilibatkan supaya bisa bersama-sama dapat menyukseskan program yang dibuat,” jelasnya.

Dijelaskan Yusuf, proses pembelajaran juga diharapkan bisa berjalan sesuai orientasi kurikulum 2013. “Ada tiga kompetensi yang harus dimiliki seorang kepala sekolah saat ini adalah akademik, kompetensi,manajerial dan kewirausahawan,” cetusnya.

Lanjut dia, program akan berlanjut selama 3 tahun dan di tahun pertama masih dalam proses dan nanti ada proses supervisi ulang.

Sementara menurut Kepala SD Negeri 43 Manado, Helmy Koagouw SPd, dalam program tersebut sekolahnya menjadi sekolah mitra. “Sebagai sekolah mitra kami bekerjasama dengan dua sekolah imbas dari Kabupaten Kepulauan Sangihe yaitu dari SD Inpres Apengsembeka  dan SDN Hesang Tamako,” ujarnya.

Helmy mengatakan, sebelumnya dua sekolah imbas telah datang berkunjung ke sekolahnya dan setelah itu sekolah mitra juga telah berkunjung ke sekolah imbas.  “Selama tujuh hari, dua orang kepala sekolah imbas telah datang magang di tempat kepala sekolah mitra dan mereka sudah melakukannya,” ungkap dia.

Lanjut Koagouw, selama berada di sekolahnya, sekolah imbas telah mempelajari tiga hal utama dari tugasnya sebagai kepala sekolah, yaitu manajerial, supervisi, dan kewirausahaan.  “Berkunjung ke dua sekolah Imbas di Kabupaten Sangihe selama 5 hari kami sekolah mitra wajib membuat laporan dengan hasil – hasilnya disampaikan ke Kemendikbud RI,” ujar Helmy.

Helmy Mengatakan, banyak hal yang didapat dari hasil kunjungan ke sekolah imbas yaitu kekurangan yang ada di sekolah tersebut.

Kepala SD Negeri 12 Manado, Jooke M Lendo SPd MM mengatakan, ditetapkan sebagai sekolah mitra, sedangkan SDK Imanuel Beo dan SD Negeri Inpres 3/77 Beo sebagai sekolah imbas. “Tugas kepala sekolah imbas adalah mencari informasi bagaimana kerja seorang kepala sekolah yang menyangkut tiga aspek yakni supervisi kewirausahaan, dan manajerial yang dikembangkan,” jelas mantan Kepala SD tabita ini.

 

Penulis:Zulkifli Madina

Leave a Reply

Your email address will not be published.