Ketua Komisi IX DPR Sosialiasi Bahaya Stunting Saat Kunjungan ke Minahasa Selatan

by



Foto : Ketua Komisi IX DPR RI Felly Runtuwene bersama BKKBN memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada masyarakat di Kecamatan Tumpaan, Minahasa Selatan.(Istimewah).

Tumpaan, Kabarmanado.com – Pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama DPR RI gencar melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).
Termasuk yang dilakukan di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulut, pada Jumat (25/09) dengan menghadirkan Ketua Komisi IX DPR RI Felly Runtuwene.

Dalam kegiatan yang digelar di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) Tumpaan, Kecamatan Tumpaan, Felly banyak membahas tentang bagaimana mempersiapkan keluarga berkualitas dan bebas stunting.
Felly mengatakan, anak-anak muda harus bisa merencanakan dan menyiapkan perkawinan mereka dengan baik.

“Pemerintah daerah juga kemudian harus menyiapkan administrasi, surat menikah, supaya bisa mengontrol anak muda ini,” ujarnya, Senin (28/9/2020).

Menurutnya, hal itu dilakukan supaya ke depannya bangsa ini punya anak-anak sesuai dengan yang diharapkan dari aspek kualitas hidup. Karena sudah dimulai dengan rencana perkawinan yang berkualitas.
“Sehingga nantinya tidak melahirkan anak anak yang menjadi beban pemerintah,” ujarnya.

Menurut Felly, saat ini BKKBN yang ditunjuk Presiden Jokowi untuk secara langsung menangani stunting. Menurutnya, stunting tidak hanya terkait dengan gizi, melainkan juga lingkungan sekitar.
“Ada persoalan lingkungan, air bersih, juga asupan gizi,” tandasnya.

Menurutnya, banyak ibu yang tidak mau memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara optimal. Padahal ASI itu selain memiliki nilai gizi yang tinggi untuk balita, juga untuk imun atau daya tahan balita.

“ASI itu diberikan minimal selama dua tahun. Namun kecenderungan ibu-ibu adalah memberikan makanan yang serba instan, seharusnya mengkonsumsi yang alami,” ujar mantan anggota DPRD Provinsi Sulut ini.

Dia mengatakan, dengan perencanaan perkawinan yang baik, maka akan melahirkan anak yang sehat dan tidak akan menjadi beban bagi orang tua dan pemerintah.

“Inilah kerja jangka panjang menyiapkan generasi Indonesia yang berkualitas,” ujarnya.