Kisah Sahban Pengrajin Parang, Berjibaku Merawat Asa di Tengah Pandemi

oleh -49 views

Manado, Kabarmanado.com – Pandemi Covid-19 bukan hanya melumpuhkan perekonomian Dunia, namun juga berdampak kepada masyarakat kecil yang berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe tepatnya di Desa Embuhanga Kecamatan Tabukan Utara.

Sahban Lintuhaseng adalah salah satu pengrajin parang di Desa tersebut.

Sudah 25 Tahun dirinya bekerja sebagai pengrajin parang di Kampunya, hingga sekarang virus corona melanda Negeri ini.

Dirinya pun harus ekstra memeras keringat mencari sesuap nasi ditengah pandemi Covid-19 yang seakan tak ada ujung.

Sehari-hari pria Umur 55 tahun yang lahir pada 1966 tahun lalu itu bekerja keras membuat parang mulai yang kecil hingga ukuran besar.

“Memang sebelum ada pandemi saya bisa bikin 3 buah per hari dan saat ini ada pandemi saya hanya bisa membuat 2- 3 buah setiap minggu karena kurang yang datang memesan,”ungkapnya.

Kata dia, untuk harga sendiri bervariasi mulai parang terkecil Rp 15.000 per buah hingga yang besar Rp 250.000 per buah.

“Hasil jualan parang saya gunakan untuk menafkahi keluarga saya.Ya lumayan pak, hasilnya untuk sekedar bertahan hidup,” ujarnya.

Di tengah terpaan pandemi yang berkepanjangan, Sahban mengaku penghidupan semakin sulit. Tak ayal, dirinya bekerja banting tulang demi menafkahi keluarga kecilnya.

“Anak saya ada dua semuanya sudah sarjana berkat kerja keras saya sebagai pengrajin parang,” kata Sahban.

Lanjut dia, dirinya ikhlas lakukan itu semua untuk menghidupi keluarga tercinta untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari,” tandasnya.

Ia pun berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir agar kondisi perekonomian keluarga nya bisa kembali seperti semula.

Modal pun menjadi kendala dirinya sampai saat ini untuk membuat parang.

“Saya sudah melakukan upaya untuk meminjam uang sebagai modal usaha di bank, akan tetapi hingga saat ini belum juga disetujui ,”kata dia.

Dia pun berharap akan adanya bantuan modal dari Pemerintah karena itu sangatlah diharapkannya agar usahanya bisa maju dan berkembang.

“Banyak saya jual di luar Sulut yakni Ternate, Gorontalo dan lainnya sesuai pesanan yang datang dan saat pandemi sudah kurang pesanan,”jelasnya.(Kifli).

tenor

No More Posts Available.

No more pages to load.