Mangrove Bahowo “Benteng“ Alam Terakhir di Manado

by
Kawasan wisata mangrove di Bahowo,Manado, Sulawesi Utara.

Manado – Kota Manado, kini tak seindah dulu. Bentang garis pantai sepanjang 18 kilometer tampak gersang. Reklamasi pantai berlangsung sejak tahun 1998  dan 60% hutan mangrove telah hilang. Tapi ada harapan baru lewat kelompok Tunas Baru Mangrove Bahowo yang hadir menjaga benteng alam ini.

Berkunjung ke Bahowo, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara, udara sejuk bakal menyambut anda. Sejumlah warga sibuk menanam bibit mangrove di tepi pantai.

Novanti Loho, Ketua Kelompok Mangrove Tunas Baru Bahowo yang berada di Kelurahan Tongkaina Kota Manado bersama teman – temannya ikut menyelamatkan lingkungan di daerahnya.

Wilayah hutan Mangrove di Tongkaina seluas 84 hektaredan 18 hektare diantaranya berada di kampung Bahowo itu, terus dijaga oleh kelompok Mangrove Tunas Baru Bahowo yang dibantu pendampingan dari LSM Manengkel Solidaritas dan pihak PT Tirta Investama Aqua Airmadidi. “Kami tergerak karena melihat bahwa ternyata mangrove yang ada sangat berguna dalam kehidupan masyarakat, khususnya kami sebagai nelayan yang bertempat tinggal di pesisir pantai,” ujar Novanti.

Dia mengatakan, dampak dari tsunami di Aceh, pada tahun 2004 masyarakat tergerak dengan membentuk kelompok dan dikukuhkan pada tahun 2011. Saat itu berjumlah 25 orang, untuk melakukan pelestarian alam dipesisir pantai dengan melakukan penanaman pohon mangrove. “Kami lihat keadaan di Aceh, maka kami takut dikarenakan rumah kami berdekatan dengan pantai,” ujarnya.

Dengan adanya hutan mangrove di kampungnya, kata dia, sangat membantu menghalangi kalau ada ombak besar yang datang, serta masyarakat sebagian besar nelayan merasa terbantu dalam meningkatkan perekonomia. “Dampak yang paling dirasakan oleh para nelayan yaitu dengan adanya pelestarian mangrove, nelayan merasakan hasil penangkapan ikannya terus meningkat dan pencarian ikan pun hanya tinggal dekat saja,” katanya.

Untuk meningkatkan perekonomian, masyarakat kampung Bahowo, kelompok melakukan penjualan bibit pohon mangrove yang sebelumnya telah dilakukan penyulaman dan pembibitan. “Kami meningkatkan perekonomian dengan menjuual bibit mangrove,” ujar Novanti.

Menurutnya, hampir setiap tahun penjualan bibit mangrove ada puluhan ribu batang yang terjual dengan dijual Rp 3.000 perbatang. “Dengan adanya kerjasama dari LSM Manengkel Solidaritas, banyak instansi yang ingin melakukan pelestarian alam datang membeli bibit pada kami,” ujar dia.

Novanti mengakui, LSM Manengkel Solidaritas dan PT Tirta Investama Aqua Airmadidi sangat membantu warga. Dulunya banyak warga belum memiliki pekerjaan dan tidak memahami tentang mangrove, sekarang sudah paham dan bisa meningkatkan perekonomian. Pekerjaan yang mereka lakukan adalah melakukan penyulaman, penanaman, pemeliharaan dan penjualan bibit. “Dari pemerintah sampai saat ini belum ada bantuan dan baru sampai pada sosialisasi. Kami berharap pemerintah bisa bekerjasama menjadikan mangrove park Bahowo sebagai destinasi wisata alam bagi turis nasional dan mancanegara,” ujarnya.

Seblum Salaen (68), warga masyarakat Bahowo mengakui, dengan adanya mangrove sangat membantu kehidupan masyarakat sampai saat ini. “Dari dulu sampai sekarang masyarakat di sini memelihara mangrove, karena dengan adanya mangrove dapat melindungi wilayah pesisir pantai,” ujar Salaen.

 

Dia menambahkan, warga sangat diuntungkan dengan adanya mangrove yang terpelihara dengan baik, di mana perekonomian terus meningkat. Selain penjulan bibit, juga banyak wisatawan nasional dan mancanegara berkunjung ke Bahowo. “Mereka datang untuk melihat sambil berfoto  dan membeli makanan pada warga yang berjualan. Selain itu juga pendapatan warga dari parker kendaraan,” ujarnya.

Ketua Umum Manengkel Solidaritas Sulut, Sella Runtulalo sebagai pendamping langsung masyarakat Bahowo di lapangan menyampaikan, sejak 2016 Manengkel Solidaritas bekerja khusus membantu masyarakat pesisir dengan memberikan pemahaman dalam melestarikan dan menjaga mangrove. “Kami bekerja membantu masyarakat pesisir dalam membangun desa mereka dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan mampu mengembangkan tanpa merusak lingkungan,” ujar Sella. Sella mengatakan, dalam pelestarian mangrove, Mangengkel Solidaritas membantu masyarakat membentuk kelompok, di mana warga difasilitasi untuk pendapatan ekonomi melalui pembibitan mangrove, pelatihan, pembuatan bedeng dan membantu memasarkan. (*)

 

Penulis: Zulkifli Madina

Editor: Yoseph E Ikanubun

 

tenor

Leave a Reply

Your email address will not be published.