Nonton Film Spotlight dan Membahas Kasus Pelecehan Seksual

oleh -676 views
Dr Denni HR Pinontoan MTh memberikan pandangannya terkait kasus pelecehan seksual.

Manado – Diskusi yang diselenggarakan di Sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado, Jumat (30/11/2018), menghasilkan sejumlah poin penting.

Puluhan peserta diskusi yang berasal dari berbagai lembaga dan organisasi ini sepakat untuk terus mengawal penuntasan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta mendorong pengesahan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS).

Rangkaian kegiatan ini dibuka dengan nonton bareng film Spotlight, sebuah film yang naskahnya ditulis oleh Tom McCarthy dan Josh Singer berdasarkan kasus pelecehan seksual terhadap anak oleh beberapa pastur gereja Katolik Roma di Boston. Kasus ini yang diungkapkan oleh tim jurnalis investigasi “Spotlight” dari kantor berita The Boston Globe hingga mendapatkan Pulitzer Prize for Public Service pada tahun 2003.

Akademisi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Dr Denni HR Pinontoan MTh dalam tanggapannya saat diskusi itu mengatakan, ada beberapa kemungkinan susahnya pengesahan RUU PKS menjadi UU PKS. “Bisa jadi karea DPR kita banyak dikuasai oleh laki-laki, sehingga perspekstif dan keberpihakan terhadap isu seperti ini minim,” ujar Pinontoan yang juga pegiat di Gerakan Cinta Damai Sulut (GCDS) ini.

Selain itu, kata dia, bisa juga anggota DPR yang perempuan justru tidak paham dan tidak peduli akan pentingnya RUU PKS ini yang pada prinsipnya melindungi para perempuan itu. ”Mungkin anggota DPR perempuan sibuk urusan lain. Bisa kita lihat, bagaimana juga kepala daerah perempuan tidak peduli dan tidak peka untuk membahas isu-isu yang menyangkut perempuan,” papar dosen yang juga aktif di gerakan kebudayaan Mawale Movement ini.

Terkait film spotlight, Pinontoan mengatakan, itu sebuah kerja yang luar biasa dari kalangan jurnalis yang bisa menerobos institusi agama dan membongkar kasus pelecehan seksual di lingkungan gereja. “Kerja-kerja jurnalis seperti ini yang kita harapkan bisa berperan membongkar kasus-kasus pelanggaran HAM,” ujar dia.

Dalam konteks lokal, dia mengungkapkan, informasi yang beredar di masyarakat terkait kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh tokoh agama beberapa kali juga mencuat. Namun sayangnya meski indikasi kuat bahwa kasus itu benar, sangsi bagi pelaku adalah pindah tempat tugas. “Padahal di tempat tugas sebelumnya, kasus yang sama juga dilakukan. Sangsinya Cuma dimutasi, maka terulang lagi kasus yang sama,” ujar Pinontoan.

Dalam diskusi yang dipandu moderator Fineke Wolajan dari Bidang Perempuan, Anak, dan Kaum Marginal AJI Manado ini menghadirkan tiga pemantik diskusi yakni Nurhasanah dari Swara Parangpuan Sulut, Pimpinan LBH Manado, Aryati Rahman dan Ketua AJI Manado, Yinthze Gunde.

Sedangkan puluhan peserta yang hadir berasal dari berbagai lembaga dan organisasi mahasiswa dan kemasyarakatan seperti Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (Peruati), LBH Manado, Swara Parangpuan Sulut, AJI Manado, Gerakan Cinta Damai Sulut, Swara Manguni Sulut, YDRI.

Selain itu ada dari Komunitas Bela Indonesia (KBI) Sulut, Sekolah Jurnalistik Lingkungan, Sekolah Pluralisme, aktivis pers mahasiswa, Tunas Hijau, Penghubung Komisi Yudisial dan Puacitya.

Penulis: Yoseph E Ikanubun

tenor

3 thoughts on “Nonton Film Spotlight dan Membahas Kasus Pelecehan Seksual

  1. 850153 637799Check out our internet site for details about securities based lending and much more. There is data about stock and equity loans as properly as application forms. 463982

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.