Menakar Sikap Gereja Terhadap Komunitas LGBT

oleh -1.174 views
Gereja Katolik Santu Josep Kleak Manado, di paroki ini Pastor Steven melayani umat.

DISKRIMINASI terhadap komunitas Lesbian, gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) terjadi di berbagai sector. Pendidikan, lapangan pekerjaan, maupun kedudukan di mata hukum. Salah satu faktor pemicu adalah stigma negatif yang diberikan oleh tokoh agama terhadap komunitas. Ini seperti yang dialami oleh Rajawali Coco, dan Ayu.

Coco, 30-an tahun, agak terlambat memasuki ibadah Minggu di salah satu gereja di Manado. Saat bersama beberapa kawannya mengambil tempat duduk, sepintas mereka mendengar seorang pendeta sedang berkhotbah tentang tolong menolong. “Namun ketika melihat kami masuk, tiba-tiba materi khotbahnya berubah. Pendeta bicara tentang kisah Sodom dan Gomora di Alkitab. Tentang dosa kaum homoseksual,” ujarnya saat berbincang-bincang di penghujung Oktober 2018 silam.

Coco mengidentifikasi dirinya sebagai seorang gay. Di Manado dan beberapa daerah di Sulawesi Utara, dia bersama beberapa kawannya mendirikan lembaga Sanubari Sulut atau dikenal dengan Salut. Melalui lembaga ini, Coco bersama kawan-kawannya aktif dalam program peningkatan kapasitas dan advokasi komunitas LGBT.
Selain aktif di berbagai program advokasi komunitas LGBT, Coco juga bekerja sebagai manajer di sebuah tempat hiburan malam. Sebelumnya dia bekerja di Manado, namun kemudian pindah ke salah satu kota di Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulut. “Untuk menambah penghasilan, saya membuka café di rumah saya di Manado,” ujarnya.

Diskriminasi bahkan stigma sebagai orang berdosa yang diterima oleh Coco karena orientasi seksual mereka bukan baru pertama dialami. Beberapa kali dia ikut kegiatan di gereja, bahkan sempat dipercayakan sebagai ketua organisasi pemuda. Namun setelah warga jemaat mengetahui dia gay, mereka mengucilkannya. Dia mengungkapkan, perlakuan diskriminatif dari pihak gereja melalui khotbah para pemuka agama itu dianggap sebagai sebuah kebenaran dan menjadi dasar untuk mendiskriminasi komunitas LGBT. “Akhirnya tafsir teks kitab suci itu yang dipakai, suara dari mimbar dianggap suara Tuhan. Kemudian mendiskriminasi kami,” tandasnya.

Perlakuan diskriminatif terhadap komunitas keberagaman gender itu semakin menguat setelah tahun 2016. Perkawinan sesama jenis di Amerika, berpengaruh pada mereka. Banyak akses dibatasi, gereja juga membatasi diri. Dia mengatakan, untuk komunitas LGBT yang berekspresi laki-laki atau perempuan masih cenderung diterima di gereja. Jika laki-laki yang memakai baju perempuan, kata dia, langsung dicap sebagai LGBT. “Laki-laki dengan ekspresi feminin banyak mengalami perlakuan ini,” ujar pendiri Lembaga Salut ini.

Hal lain diungkapkan Coco dalam kaitannya dengan kehidupan mereka di lingkungan lembaga keagamaan. Ada seperti standar ganda perlakuan yang mereka alami. Meski mendapat diskriminasi, namun gereja juga masih menerima uang persembahan. Menurutnya, mereka yang diidentifikasi sebagai lesbian atau banci namun banyak menyumbang di gereja untuk pembangunan rumah ibadah, masih mendapat tempat. Namun jika mereka adalah komunitas yang sama dari kelas ekonomi bawah masuk ke ruma ibadah selalu mendapat cibiran.

Meski terus berjuang untuk mengadvokasi diri dan komunitas LGBT, ada satu masa di mana Coco berontak terhadap dirinya. Dia mengatakan, kalau tahu hidup sebagai LGBT itu berat, dia juga ingin menjadi laki-laki atau perempuan tulen dalam pandangan hetero normatif. “Kalau bisa saya mau pesan sama Tuhan, agar dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan,” paparnya.
Dia mengatakan, dalam posisi seperti itu siapa yang mau disalahkan, orang tua, Tuhan, atau Nabi Lot seperti dalam kisah Alkitab. Dalam kondisi seperti ini, dia menyadari dan berharap semua pihak juga termasuk gereja, bahwa keberagaman gender ini bersifat natural, given.

Mengimbangi stigma dosa yang disematkan kalangan tokoh agama terhadap komunitas LGBT, Coco dan kawan-kawan juga aktif melakukan kajian-kajian teologis terkait eksistensi kehidupan mereka. Menurutnya, bicara teologi itu akan sangat berat, namun penguatan yang dia lakukan bersama teman-teman secara spiritual terus dilakukan.
Apa yang dialami Coco, juga dialami Ayu (30-an). Bahkan jika disbanding dengan dirinya, perlakuan yang diterima Ayu lebih menyakitkan. Berjenis kelamin biologis laki-laki dengan ekspresi gender feminin, Ayu jadi bahan lelucon. Bahkan di kegiatan-kegiatan keagamaan. Tak hanya itu, dia juga tidak diperkenankan mengikuti kegiatan-kegiatan olahraga dan seni di lingkungan gerejanya.

Berbeda dengan Coco yang memiliki pekerjaan lebih baik, Ayu menjual jasa dengan bekerja di beberapa salon. Penghasilannya tidak tetap. Kondisi ekonomi yang jauh dari mapan, ditambah ekspresi gender yang feminin, membuat dia mendapat sering mendapat perlakuan tidak adil. “Ada banci masuk gereja, kaum berdosa, juga kalimat lainnya sudah sering saya dengar,” ujar Ayu.
Ayu memilih berpindah gereja untuk menghindari diskriminasi, namun hal itu pun tidak berhasil. Ia masih mengalami perlakuan yang sama. Sempat terlintas di benak Ayu untuk menjauhi kegiatan ibadah, namun dia menyadari konsekuensinya adalah stigma sebagai kaum berdosa akan semakin kuat. Ayu tak punya pilihan.

Bagaimana Pandangan Gereja Katolik?

Pembahasan tentang LGBT ini tertuang dalam Statuta Keuskupan Manado tahun 2018, Pasal 53 tentang Perhatian Pastoral bagi Anggota Umat yang Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT).Meski di sisi lain mengakui LGBT sebagai sesama ciptaan Tuhan, namun stigma dosa terhadap komunitas ini masih melekat kuat.

Ketua Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Manado, Pastor Steven Lalu Pr mengatakan, dalam statuta itu disebutkan, LGBT adalah bagian dari umat Allah dan tidak terpisah dari Gereja. “Mereka harus diterima dan dicintai sebagai pribadi manusia yang diciptakan oleh Allah dan dipanggil menuju kekudusan,” ujar Pastor Steven.
Masih dalam statuta itu, lanjut dia, disampaikan kepada para Gembala jiwa-jiwa dan komunitas umat beriman perlu membedakan antara kecenderungan alamiah kepada LGBT, pengaruh lingkungan yang membuat seseorang berkembang menjadi LGBT dan praktek seksual LGBT yang melawan norma moral seksual. Menurutnya kecenderungan seksual alamiah harus diterima sebagai fakta dan tidak boleh dinilai secara moral. Praktek kegiatan seksual LGBT itulah yang harus dilarang, termasuk usaha perkawinan sejenis yang meminta pengakuan resmi dari gereja dan masyarakat.

Pastor Steven menambahkan, Gereja Katolik tidak melayani perkawinan sejenis, tidak mau menerima praktek seksual orang-orang LGBT, namun gereja menerima pribadi mereka sebagai sesama saudara dalam iman dan bagian dari umat Allah yang harus dilayani dan diselamatkan. Pastor Steven mengatakan, pernyataan dalam statuta keuskupan ini hendak menyatakan bahwa gereja tidak pernah membenarkan perilaku LGBT. Tetapi atas dasar cinta memberi pengakuan terhadap keberadaan manusia LGBT. “Gereja mendorong mereka yang memiliki kecenderungan ini untuk berusaha supaya tidak jatuh dalam dosa LGBT,” ujarnya.

Pandangan Teologi atau Sikap Kristen tentang LGBT

Ketua Badan Pengurus Nasional (BPN) Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia (Peruati), Pdt Ruth Ketsia Wangkai MTh mengatakan, pandangan teologi atau sikap Kristen terhadap komunitas LGBT itu beragam. Teologi itu, menurut dia, juga tidak tunggal tapi beragam dan siapa yang akan menyampaikan teologi itu tergantung orang. “Kalau teologi saya pribadi, mungkin berbeda dengan pandangan teologi, teman-teman Kristen Protestan. Saya juga berbeda dengan pandangan teologi gereja di mana saya menjadi pendeta,” ungkap Ruth kepada kabarmanado.com, Sabtu 20 Oktober 2018.

Ruth adalah seorang pendeta dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), yang merupakan salah satu anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Sikap GMIM menolak keberadaan komunitas LGBT.
Dia mengungkapkan, teologi itu sebuah refleksi dari pengalaman manusia berinteraksi dengan sesama. Menurut Ruth, komunitas ini tidak bisa dibedakan karena sama-sama ciptaan Tuhan. Lalu mau bedakan karena orientasi seksual dengan mainstreaming yang punya orientasi yang berbeda. Itulah keragaman. Ruth kembali menegaskan, dia melihat komunitas LGBT ini dari sisi kemanusiaan, tanpa melihat perbedaan gender dan orientasi seksual. “Aspek kemanusiaan yang diutamakan. Sama-sama ciptaan Tuhan,” tandasnya.

Terkait penggunaan sejumlah teks dalam Alkitab untuk mendiskriminasi komunitas LGBT sebagaimana cerita Sodom dan Gomora yang disampaikan Coco, Ruth mengatakan, selama ini ada kelompok penolak yang mengambil beberapa teks alkitab. Antara lain Kitab Kejadian 19, tentang Sodom dan Gomora. Dia kemudian meneliti dan membaca ulang teks tersebut dan menurutnya hal itu tidak bicara tentang homoseksual, atau kejahatan homoseksual. Dia bicara tentang perilaku dan kejahatan orang-orang yang bisa saja heteroseksual, mungkin juga homoseksual ada di dalam. Tapi tidak spesifik bicara kejahatan kaum homoseksual.

Ruth mengatakan, cerita itu tentang kejahatan orang-orang Sodom dan Gomora yang entah apa identitas gender dan orientasi seksual mereka. “Itu tidak merujuk ke situ (orientasi seksual). Yang penting kitab kejadian itu bicara kejahatan,” tandas dia.
Dia menjabarkan, kejahatan memang kalau dilihat dari beberapa teks yang merujuk pada Sodom dan Gomora misalnya Yesaya, Yehezkiel dan Yeremia. “Ada kejahatan social atau mereka yang tidak peduli terhadap orang miskin dan janda-janda. Kejahatan social, bukan kejahatan identitas atau orientasi sesksual tertentu,” ujar dia.
Ruth mengatakan, sebenarnya ada kejahatan berbasis gender, tapi gereja cuma mengangkat homoseksual. “Mungkin karena istilah sodomi itu dari kata Sodom. Kecenderungan tafsir teks itu pada kejahatan seksual, padahal tidak bicara soal itu,” ujar pengajar di Universitas Kristen Indonesia Tomohon ini.

Ruth menegaskan, setelah mengkaji teks itu secara tersurat dan tersirat tidak bicara soal kejahatan homoseksual. “Bisa saja kejahatan dari orang-orang heteroseksual,” ungkap teolog yang juga pegiat Gerakan Cinta Damai Sulut ini.(***)

Penulis: Yoseph E Ikanubun

Tulisan ini merupakan hasil liputan terkait keberagaman gender dalam perspektif HAM, sebuah fellowship yang didanai AJI Indonesia dan Ardhanary Institute

tenor

45 thoughts on “Menakar Sikap Gereja Terhadap Komunitas LGBT

  1. Pretty section of content. I just stumbled upon your website and in accession capital to assert that
    I acquire actually enjoyed account your blog posts. Any way I will be subscribing to your
    augment and even I achievement you access consistently rapidly.

  2. Very nice post. I just stumbled upon your blog and wanted to say that I
    have truly enjoyed browsing your blog posts. In any case I’ll
    be subscribing to your rss feed and I hope you write again very soon!

  3. Exceptional post but I was wanting to know if
    you could write a litte more on this topic?
    I’d be very grateful if you could elaborate a little bit
    further. Thank you!

  4. Hmm is anyone else having problems with the images on this blog loading?
    I’m trying to determine if its a problem on my end or if it’s the blog.
    Any responses would be greatly appreciated.

  5. Magnificent items from you, man. I have remember your stuff prior to and you are
    simply too excellent. I actually like what you’ve got right here, really like what you’re stating and the way in which in which you are saying it.

    You make it entertaining and you still take care of to stay it smart.
    I can’t wait to read far more from you. That is actually a tremendous website.

  6. Howdy! I simply want to offer you a big thumbs up for
    your excellent info you have here on this post. I am returning to your site for more soon.

  7. Undeniably imagine that which you said. Your favourite justification appeared to
    be on the web the simplest factor to be mindful of. I say to
    you, I definitely get annoyed whilst other folks consider worries that
    they just don’t recognise about. You managed to hit the nail upon the highest as smartly as outlined
    out the whole thing without having side-effects , other people could take a signal.
    Will probably be back to get more. Thanks ps4 https://bit.ly/3nkdKIi ps4 games

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.