Mengenang 22 Tahun Wartawan Udin Dibunuh Karena Berita

by

Yogyakarta – Fuad Muhammad Syafruddin (Udin), wartawan Harian Bernas dibunuh 22 tahun lalu oleh orang tidak dikenal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Seperti diketahui, Udin meninggal 16 Agustus 1996 lalu setelah dipukul orang tidak dikenal di rumahnya di Bantul tiga hari sebelumnya. Berbagai investigasi yang dilakukan jurnalis dan akademisi menyimpulkan Udin dibunuh akibat dari berita-berita yang ditulisnya. Namun hingga saat ini polisi belum bisa menemukan siapa pelaku pembunuh Udin.

Saat menjadi jurnalis, Udin selalu menulis kasus-kasus korupsi yang terjadi di desa-desa seperti dan proyek pembangunan yang merusak lingkungan. Ia juga pernah menulis dugaan suap dari Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo waktu itu kepada Yayasan Dharmais agar bisa menjadi bupati untuk periode kedua. “Ini yang perlu dilakukan, setelah masyarakat sipil melakukan upaya litigasi dan non-litigasi terhadap kasus ini,” ujar pengajar Jurusan Komunikasi, Universitas Islam Indonesia (UII), Masduki dalam diskusi publik bertema “22 Tahun, Apakah Kasus Udin Bisa Dituntaskan?” di kampus UII, Kamis (16/08/2018).

Diskusi publik ini diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dan Program Studi Komunikasi UII dengan moderator Tri Wahyu KH dari Koalisi Masyarakat untuk Udin (KAMU). Tampil sebagai pemantik diskusi itu adalah Anang Hermawan (Prodi Komunikasi UII), Tri Guntur Narwaya (Pusat Studi Hak Asasi Manusia, UII) dan Bambang Muryanto (AJI Yogyakarta). “Jika nilai-nilai jurnalisme dari Udin diteruskan para jurnalis saat ini maka dia akan menjadi pahlawan dalam arti sebenarnya,” ujar Masduki.

Ia melihat apa yang dilakukan Udin ini bisa ditiru untuk mengawasi penggunaan dana desa yang dikucurkan pemerintah pusat ke desa-desa.

Sedangkan Anang mengingatkan keteladanan Udin dalam menjalankan profesi jurnalisnya perlu ditiru dan dipelajari para mahasiswa di jurusan komunikasi. Semasa hidupnya, Udin banyak melakukan liputan-liputan investigasi. “Namun sayangnya, sekarang banyak mahasiswa yang tidak memilih jurusan jurnalistik. Mereka lebih suka memilih jurusan public relation,” ujarnya.

Ia juga mengatakan kurikulum di jurusan jurnalistik perlu dibenahi agar bisa menghasilkan jurnalis-jurnalis yang berkualitas seperti Udin.

Sementara itu Bambang mengatakan peringatan kematian Udin penting agar publik tahu bahwa membunuh jurnalis membawa kerugian besar bagi publik. Negara sudah sepantasnya memberikan perhatian serius terhadap persoalan ini. “Membunuh jurnalis itu adalah langkah pertama untuk menutup informasi penting bagi masyarakat,” ujarnya.

Dalam paparannya, Guntur mengatakan negara semakin tidak bisa diharapkan untuk mengatasi persoalan ini.  Upaya litigasi saja tidak cukup untuk menuntaskan kasus ini. “Perlu ada gerakan massa yang lebih besar,” ujarnya.

Setelah menggelar diskusi publik, AJI Yogyakarta bersama Koalisi Masayarakat untuk Udin (KAMU) menggelar aksi diam, menunut penuntasann kasus Udin di depan Istana Kepresidenan di Yogyakarta. Aksi ini dilakukan setiap tanggal 16 dan hingga saat ini sudah berlangsung sebanyak 48 kali atau sudah empat tahun. “Ini adalah bentuk perlawanan dari masyarakat sipil, kami menolak lupa terhadap kasus pembunuhan Udin,” ujarnya.

 

Penulis: Yoseph E Ikanubun

tenor

Leave a Reply

Your email address will not be published.