Mengenang Komodor Yos Sudarso dan 57 Tahun Pertempuran Laut Aru

by
KRI Macan Tutul yang dinahkodai Komodor Yos Sudarso bertempur melawan Belanda di Laur Aru.

Manado – Hari H untuk pelaksanaan operasi penyusupan adalah Senin, 15 Januari 1962. Pada H minus tiga (-3), semua kapal ALRI telah merapat di rendezvous point di sebuah pulau di Kepulauan Aru, Provinsi Maluku.

Pasukan yang sudah diturunkan dari Hercules AURI juga sudah diangkut kapal dari Letfuan, Pulau Kei Kecil, menuju pulau tersebut. Pada hari pertama di titik itu, pesawat-pesawat Belanda sudah datang mengintai. Hal yang sama terjadi pada H -2 dan H -1.

Hari H pukul 17.00 waktu setempat, tiga kapal mulai bergerak. KRI Harimau berada di depan, membawa antara lain Kolonel Sudomo, Kolonel Mursyid, dan Kapten Tondomulyo. Di belakangnya adalah KRI Matjan Tutul yang dinaiki Komodor Yos Sudarso. Sedangkan di belakang adalah KRI Matjan Kumbang.

Menjelang pukul 21.00, Kolonel Mursyid melihat radar blips pada lintasan depan yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di sebelah kanan dan satu di kiri. Blips tersebut tidak bergerak, menandakan kapal-kapal sedang berhenti. Ketiga KRI kemudian melaju. Tiba-tiba terdengar dengung pesawat mendekat, lalu menjatuhkan flare yang tergantung pada parasut. Keadaan tiba-tiba menjadi terang-benderang, dalam waktu cukup lama. Tiga kapal Belanda yang berukuran lebih besar ternyata sudah menunggu kedatangan ketiga KRI.

Kapal Belanda melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kolonel Sudomo memerintahkan untuk balas menembak namun tidak mengenai sasaran. Komodor Yos Sudarso memerintahkan ketiga KRI untuk kembali. Ketiga kapal pun serentak membelok 180°. Naas, KRI Matjan Tutul macet dan terus membelok ke kanan. Kapal-kapal Belanda mengira manuver berputar itu untuk menyerang mereka. Sehingga mereka langsung menembaki kapal itu. Tembakan pertama meleset, namun tembakan kedua tepat mengenai KRI Matjan Tutul. Menjelang tembakan telak menghantam kapal, Komodor Yos Sudarso meneriakkan perintah, “Kobarkan semangat pertempuran!”
Komodor Yos Sudarso, nama lengkapnya Yosaphat Sudarso lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 24 November 1925. Ia gugur di usia yang masih muda yakni 36 tahun. Oleh pemerintah Indonesia, dia dianugerahi gelar pahlawan nasiona. Juga diberi kenaikan pangkat kehormatan menjadi Laksamana Madya TNI (anumerta). Namanya kini diabadikan menjadi nama KRI dan pulau.

Hari ini, 15 Januari, tepat 57 tahun silam peristiwa heroik pertempuran Laut Aru itu terjadi. Mengenang momen bersejarah itu, Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) VIII Manado akan mengelar nonton bareng (nobar) Film Mengenang Pertempuran Laut Arafuru dalam rangka memperingati Hari Dharma Samudera tahun 2019.

Nobar rencananya akan digelar di Gedung Yos Sudarso Mako Lantamal VIII Manado, Selasa (15/01/2019) malam, pukul 20.00 Wita .

Menurut Kadispen Lantamal VIII Mayor Laut (T) Jusuf Ali, film itu menceritakan tentang semangat juang Angkatan Laut dalam mengangkat wibawa NKRI. Pertempuran yang terjadi di Laut Arafuru pada tgl 15 Januari 1962, dengan kemampuan alutsista yang terbatas, Komodor Yos Sudarso dengan gagah berani tampil membela Tanah Air untuk tetap tegaknya NKRI. Bahkan dengan rela mengorbankan nyawanya sendiri untuk bumi pertiwi.

Ali mengatakan, nobar ini merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk mengingatkan kembali dan menularkan semangat pertempuran Komodor Yos Sudarso saat merebut Irian Barat.

“Kami berharap, melalui nobar ini, penonton bisa meneladani semangat pertempuran Komodor Yos Sudarso dan pengorbanannya demi menjaga wibawa NKRI dan demi tegaknya NKRI dan harus diteruskan kepada generasi penerus bangsa Indonesia saat ini,” pungkasnya.

Penulis: Yoseph E Ikanubun

Leave a Reply

Your email address will not be published.