Mulawarman: Tuntutan Mitra Tidak Akan Dikabulkan, Bawa Peti Jenazah Kantor PT Gojek di Manado Disegel Oleh Pengemudi Online

by

Manado – Kantor PT Gojek Indonesia di Manado disegel oleh ratusan pengemudi online, gojek, maupun driver taxi daring, dalam aksi damai yang dilakukan oleh ratusan pengemudi tersebut pada Jumat (6/9/2019) siang.

Dalam penyegelan kantor Gojek di Manado, pengemudi taxi daring dan ojek online terpaksa menutup kantor Gojek di Manado karena sejumlah tuntutan pengemudi belum bisa diakomodir, sehingga para Mitra PT Gojek Indonesia di Sulawesi Utara (Sulut) tersebut terpaksa menutup kantor Gojek dan menyegelnya. Proses penyegelan kantor Gojek dilakukan perwakilan pengemudi yang dibawahi oleh Wadah Asosiasi Online (WAO) dan Asosiasi Driver Online (ADA) dengan membentangkan Spanduk didepan kantor Gojek Manado, yang bertuliskan “PT Gojek Hargailah Kami Sebagai Mitra dan Bukan Jongos Salam dari Popcorn untuk Decacorn”. Mereka juga meletakkan Peti Jenazah dan krans didepan pintu masuk kantor Gojek yang bertuliskan “Driver Online Berduka”.

Ketua umum WAO Christian Yokung, mengatakan kantor Gojek terpaksa kami segel karena pihak aplikator sudah semena-mena kepada kami sebagai Mitra yang harusnya kami statusnya bagian dari perusahaan, artinya kami harus dihargai dan diperhatikan juga, namun kenyataanya di lapangan jadi sebalikanya, bonus dipotong hingga hampir stengah, padahal Upah Minimum Provinsi (UMP) makin naik, sehingga mempertayakan hati nurani perusahaan membuat driver dan pengemudi ojek makin menderita. “Dengan kenaikan Rp 2000 ini bertabrakan dengan kebijakan pemerintah di daerah yang belum berlaku sehingga ini bisa dikatakan pungli, yang beriimbas pada Mitra dan masyarakat sebagai pengguna Gojek dan taxi online,” tegas Yokung yang didampingi sejumlah Pengurus WAO dan ADO.

Yokung menegaskan, kami memberikan batas seminggu kepada pihak PT Gojek Indonesia untuk memenuhi tuntutan kami, jika tidak kami akan datang dengan massa yang lebih banyak lagi. “Kami mendesak PT Gojek menghentikan pungutan Rp 2000 karena itu adalah pungli, order prioritas dihilangkan,  pihak Gojek tidak boleh membuat Komunitas dan berlaku sebagai aplikator, karena itu bagian dari Mitra,” tandas Yokung.

Tanggapan PT Gojek Indonesia:

Sementara itu Mulawarman Head of Regional Corporate Affairs Gojek Indonesia Bagian Timur kepada kabarManado.com menjelaskan, sebagian tuntutan para Mitra tidak bisa dipenuhi karena aturan itu telah dibuat oleh pemerintah yaitu dalam PM 12 dan PM 118. Kata Mulawarman, dalam aksi hari ini pihak Mitra seharusnya berkomunikasi dengan pihak aplikator yang ada di Manado dan tidak perlu melakukan aksi demo, karena pihak Gojek selalu terbuka untuk menerima mereka, ada jalu-jalur komunikasi yang selalu bisa menerima mereka yang namanya kopi darat, itu dilakukan dua minggu sekali. “Disana kita tukar pikiran, mendengarkan aspirasi Mitra, kami selalu menyambut baik apa aspirasi Mitra malalui kopi darat tersebut,” ucap Mulawarman.

Menurutnya, menyangkut penghapuaan Rp 2000 tersebut tidak bisa dilakukan karena sudah diatur oleh pemerintah, sehingga pihak Gojek tidak bisa menentukan sendiri. “Itu merupakan biaya Jasa Aplikasi yang dipergunakan untuk keamanan Mitra, pengemudi, dan hal itu dibebankan kepada konsumen dan bukan untuk Mitra atau pengemudi,” ungkapnya.

Menyangkut pemutusan sepihak, Mulawarman mengatakan hal itu tidak dilakukan oleh aplikator, namun aturan tersebut telah diketahui Mitra, ketika disampaikan dalam kopi darat. Kami terapkan sesuai jenis pelanggaran yang dilakukan, tapi keputusan itu diambil malalui dua pihak, dan bukan sepihak, kita mendengarkan keterangan mereka, setelah itu ada sanksi yang diberikan sesuai jenis pelanggarannya. “Tapi sebelum sanksi diberikan ada surat pemberitahuan yang disampaikan kepada Mitra atau pengemudi, peringatan pertama hingga ketiga yang disampaikan melalui notifikasi kepada Mitra,” ucap Mulawarman.

Dia menambahkan, Fokus PT Gojek Indonesia yaitu untuk meningkatkan kesejahterakan Mitra, tapi strateginya bukan hanya dalam bentuk materi tapi dilakukan dalam pengembangan diri, namanya “Bengkel Belajar Mitra” pengembangan diri sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari Mitra, “Contohnya pelatihan kewirausahaan, Mitra kita berikan pelatihan sesuai keinginannya, sehingga tidak selamanya jadi driver, namun mereka naik kelas sebagai UMKM,” imbuhnya.

Editor: Ishak Kusrant

Leave a Reply

Your email address will not be published.