Pandemi Covid-19, Forum Pimpinan Umat Islam Di Sulut Sepakat Laksanakan Shalat Ied di Rumah

by


Manado – Mengenai polemik yang berkembang dimasyarakat tentang perbedaan pendapat terkait pelaksanaan Sholat Idul Fitri (Ied), Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Utara (MUI Sulut) mengeluarkan “Seruan” . Bertempat di Kantor Gubernur, Selasa (19/05/2020).

Ketua MUI Sulut KH.Abdul Wahab Abdul Ghafur LC.MA, mengatakan Pelaksanaan Sholat Ied tahun ini dihimbau untuk dilaksanakan dirumah masing-masing, mengingat saat ini kondisi Bangsa dan Negara lagi berjuang untuk memutus mata rantai Covid 19.

Dikatakan Ketua MUI Sulut, bahwa Sholat ied Hukumnya adalah Sunnah jadi bisa saja dikerjakan bersama dengan Keluarga dirumah.

Ditambahkannya terkait waktu lalu ada beda persepsi tentang Pelaksanaan Sholat di Masjid, Abdul wahab menegaskan jika kali ini bahwa 15 Kabupaten dan Kota sudah sepakat.

“MUI Provinsi itu membawahi 15 Kabupaten dan Kota, kenapa waktu lalu himbauannya berbeda karena untuk tiap Kabupaten dan Kota keputusan diserahkan Masing-masing tergantung Status dan Tingkat Penyebaran Virus di daerah, tapi kali ini kita sudah Koordinasi dan sepakat untuk menyerukan Sholat Ied dirumah, karena sudah hampir seluruh Kabupaten dan Kota di Sulut sudah terpapar penyebaran Virus Covid 19” imbuhnya.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey juga menggelar rapat koordinasi bersama Forum Pimpinan Umat Islam membahas persiapan Umat Islam dalam menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1441 H ditengah pandemi covid-19 yang melanda dunia termasuk negara Indonesia dan Provinsi Sulut.

Dalam rapat yang digelar di Kantor Gubernur, Selasa (19/5/2020) dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Wakil Gubernur Steven O.E. Kandouw, Sekdaprov Edwin Silangen, Kakanwil Kemenag Sulut H Abdul Rasyid dan Forum Pimpinan Umat Islam yang terdiri dari Ketua Umum MUI Sulut K.H Abdul Wahab A. Gafur LC, Ketua PW Muhammadiyah Sulut DR. Nasruddin Yusuf, Ketua PW NU Sulut Drs. H Ulyas Taha, MPd, Ketua Wilayah SI Sulut Macmud Turuis, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia Sulut Wahyudy Karaeng, Ketua Baznas Sulut Abid Takalamingan, Ketua PHBI Sulut Syahrul Poli, PW Mathla’ul Anwar Awaluddin Pangkey serta Tokoh Umat Islam yang juga Anggota DPRD Sulut Amir Liputo.

Adapun kesepakatan dalam rapat koordinasi tersebut dituangkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh Forum Pimpinan Umat Islam dengan hasil sebagai berikut:

Pada hari ini selasa; 19 Mei 2020 kami para Pimpinan Ormas Islam provinsi Sulawesi Utara, dalam rangka memberikan keterangan kepada Umat Islam guna menghadapi semakin dekatnya Hari Raya Idul fitri 1441H/2020M ditengah-tengah musibah merebaknya Covid 19 memutuskan hal-hal sebagai berikut untuk menjadi pedoman sebagai berikut :

1. Mengimbau kepada seluruh komponen umat Islam Sulawesi Utara bahwa tidak melaksanakan takbiran secara berkelompok (konvoi) tapi melaksanakan secara terbatas di masjid – mesjid masing-masing serta dirumah masing-masing.

2. Shalat Idul Fitri adalah perkara sunnah (boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan). Karenanya dalam kondisi saat ini apabila ingin melaksanakan sholat idul fitri maka diimbau untuk melaksanakannya di rumah masing-masing baik secara berjamaah (bersama keluarga) ataupun secara munfarid (sendiri-sendiri).

3. Mengajak kepada seluruh Umat Islam ba’da (selesai) Ramadhan agar tetap membatasi kegiatan mengumpulkan orang dalam jumlah banyak termasuk dalam kegiatan silaturahim dan kegiatan halal bi halal.

4. Seluruh kegiatan-kegiatan diatas jika dilaksanakan tetap memperhatikan protokol covid 19 ( menjaga kebersihan, jaga jarak, menggunakan masker, mencuci tangan dengan air sabun)

Sebelumnya, Menteri Agama Fachrul Razi juga meminta masyarakat melaksanakan Shalat Idul Fitri 1441 hijriah di rumah masing-masing.

la meminta masyarakat tak menunaikan Shalat Idul Fitri di masjid dan lapangan yang dapat mengumpulkan massa dan menciptakan kerumunan.

Hal itu dikhawatirkan akan meningkatkan kemasifan penularan Covid-19.

“BIN memberikan prediksi kalau kita masih melakukan shalat Idul Fitri di luar akan terjadi pelonjakan angka penularan Covid-19 yang signifikan,” ujar Fachrul usai rapat bersama Presiden Joko Widodo melalui video conference, Selasa (19/5/2020).

la menambahkan, Undang-Undang No. 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan juga telah mengatur kegiatan peribadatan di tengah pandemi yakni dilakukan secara sendiri-sendiri dan tidak mengumpulkan massa.

Karena itu, ia meminta masyarakat mematuhi ketentuan perundang-undangan yang berlaku terkait tata cara peribadatan di tengah pandemi.

“Hendaknya kita taat kepada pembatasan kegiatan keagamaan maupun pembatasan kegiatan di fasilitas umum sesuai dengan UU No 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan,” ujar Fachrul.

“Cukup dilakukan di dalam rumah sendiri bersama keluarga inti. Oleh sebab itu yang kita keluarkan kata-kata imbauan (Shalat Idul Fitri di rumah),” sambungnya.

Presiden Joko Widodo juga meminta seluruh ibadah di bulan Ramadhan, termasuk shalat Idul Fitri, disesuaikan dengan protokol kesehatan.

la mengatakan, pemerintah tak melarang warganya beribadah namun harus tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19.

“Pemerintah tidak melarang untuk beribadah. Justru pemerintah melalui Kementerian Agama mendorong agar setiap umat beragama meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya masing-masing,” ujar Jokowi dalam rapat terbatas melalui video conference.

“Yang kita imbau, yang kita atur adalah peribadatannya, dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan dan (sesuai) anjuran beribadah di rumah yang bisa dilakukan bersama-sama,” lanjut dia.