Pemberitaan Media Cenderung Menyudutkan Perempuan

by
Suasana diskusi di kegiatan Suluk Santri yang diselenggarakan oleh PMII Cabang Metro Manado.

Manado – Pemberitaan media terkait kasus prostitusi online yang melibatkan sejumlah artis ternama mendapat perhatian kalangan aktivis mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Metro Manado. Media dinilai cenderung menyudutkan dan merugikan perempuan.

“Isu perempuan di media menjadi sangat sexist, cenderung menyudutkan perempuan menyudutkan perempuan. Apakah ini pengaruh budaya patriarki yang masuk di media,” ujar Indah Cisa Wahyuningsih, Jumat (18/01/2019).

Indah adalah salah satu peserta yang hadir dalam kegiatan Suluk Santri Pergerakan II yang diselenggarakan oleh PMII Cabang Metro Manado. Agenda pendidikan kader itu dilaksanakan mulai 14 – 20 Januari 2019 bertempat di Sekretariat PMII Metro Manado.

Malam itu dipandu moderator Muh Zainal Arifin, para peserta membahas tentang Literasi Media di Era Digital dengan menghadirkan narasumber Yoseph E Ikanubun, Ahli Pers dari Dewan Pers.

Indah kemudian mencontohkan pemberitaan media terkait kasus prostitusi online yang terjadi di Surabaya baru-baru ini. Dari berbagai berita yang dikonsumsi publik, lanjut dia, cenderung menyalahkan perempuan. Bahkan terjadi persekusi.

“Kenapa tidak diungkap dan diberitakan juga pengguna jasanya. Kenapa hanya perempuan yang disudutkan. Ini sangat disesalkan,” ujar Indah.

Dia juga kemudian memberikan contoh judul-judul pemberitaan yang sebenarnya merugikan kaum perempuan. “Media mendapat kapital dari situ, tapi mengapa menyudutkan perempuan,” tambah mahasiswi yang sementara menempuh studi Strata 2 ini.

Menangapi hal ini, Ikanubun mengakui masih banyak pemberitaan media yang menyudutkan perempuan. Hal ini selain disebabkan karena kurangnya pemahaman jurnalis dan pengelola media tentang bagaimana menulis isu-isu perempuan dengan benar.

“Hal-hal yang berbau sensualitas perempuan ini menjadi menarik diulas media, dan publik menyukai pemberitaan yang seperti ini. Media mendapat kapital dari isu seperti ini. Padahal sebenarnya merugikan perempuan,” papar Ketua AJI Manado Periode 2012 – 2015 dan 2015 – 2018 ini.

Jurnalis dan pengelola media, lanjut dia, sebenarnya menyadari hal ini apalagi jika semua tunduk pada Kode Etik Jurnalistik. Inilah kondisi ril di mana media bertarung dalam dua pilihan, mengejar profit dengan pemberitaan yang bombastis termasuk mengumbar sensualitas, atau tetap taat dan tunduk pada kode etik dan kaidah jurnalistik.

“Hal ini menjadi tanggungjawab organisasi profesi wartawan seperti Aliansi Jurnalis Indepeden untuk mengawal pemberitaan berperspektif gender, tidak diskriminatif,” ujar Majelis Etik AJI Manado Periode 2018 – 2021 ini.

Untuk kasus di Surabaya, lanjut dia, awalnya memang hanya sosok artis yang disebut dan dimunculkan. Namun kemudian ada beberpa media online nasional yang menugaskan reporternya mencari dan mengungkap siapa pengguna jasa prostitusi online itu.

Dia menambahkan, memperbaiki mutuk pemberitaan, berbagai langkah dilakukan AJI dan Dewan Pers melalui berbagai pelatihan untuk meningkatkan kapasitas jurnalis sehingga bisa menghadilkan karya jurnalistik yang menjunjung nilai kemanusiaan.

Diskusi malam itu berlangsung seru dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta terkait berbagai hal yang bersentuhan dengan jurnalis dan media.

Ketua PC PMII Metro Manado, Mulyadi Tuhatelu menyampaikan, sebagai tindaklanjut dari materi tentang literasi media tersebut, para peserta akan dilatih untuk menulis terkait potret kota Manado.

Penulis: Ron RJM
Editor : Yoseph E Ikanubun

Leave a Reply

Your email address will not be published.