Perjuangan Reslita Soda Guru SLB Antar Tugas Siswa Lewati Pegunungan Hingga 40 Kilometer

by

Foto : Perjalanan Reslita Soda kerumah siswa saat pembelajaran luring melewati pegunungan Ke-Kelurahan Nusa Lembe Utara Kota Bitung.

Bitung, Kabarmanado.com – Pandemi Covid-19 jadi tantangan tersendiri bagi guru SLB Trikora Indah Bitung. Tidak semua siswanya bisa menerapkan belajar online. Mereka pun harus mengantarkan materi dan tugas ke rumah. Jaraknya tempuhnya cukup lumayan jauh.

Saat pandemi Covid-19, sekolah diliburkan sejak Maret lalu. Termasuk di Sekolah Luar Biasa (SLB) Trikora Indah Bitung. Sama seperti sekolah umum, SLB di Desa pulau Lembe itu juga menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam jaringan ( daring ) dan luar jaringan atau ( luring ).

Sebenarnya, tampak lebih simpel dan mudah. Siswa bisa belajar dari rumahnya masing-masing. Tapi, persoalaannya, tidak semua wali murid memiliki smart phone. Itulah yang menjadi tantangan bagi Reslita Soda, salah satu guru di sana.

“Kesulitannya, tidak semua siswa bisa belajar daring,” kata Reslita Rabu lalu (02/09).

zaman informasi teknologi (IT) yang makin canggih saat ini, tidak semua Siswa Daerah tinggalnya mempunya Jaringan internet. Faktanya di Pulau Lembe ada beberapa Kelurahan tidak memiliki jaringan internet.

Kelurahan tersebut yakni di Kelurahan Nusu dan Motto Kecamatan Lembe Utara Kota Bitung dan ada juga di Daerah Kecamatan Lembe Selatan tidak memiliki jaringan internet.

Beberapa Kelurahan yang letaknya jauh dari Kota Bitung ini, berada dibalik Pulau Lembe dengan jarak tempuh 40 – 50 Kilometer dan melewati jalan yang bergunung dan menurun tajam serta berlubang.

Foto : Reslita Soda saat mengambil hasil Siswa dan memberikan penjelasan soal tugas yang baru kepada kedua Siswa Tunagrahita saat pembelajaran luring Rabu (02/09).

Kata Reslita, murid di kelasnya banyak yang tidak memiliki HP dan juga tempat tinggalnya tak bersignal. “Kalau di kota lain mungkin semua memiliki jaringan internet. Tapi di sekolah kami, masih ada yang tidak terjangkau jaringan internetnya,” ucapnya.

Meski begitu, halangan tersebut bukan berarti membuat KBM berhenti. Risita pun berupaya agar siswanya tetap di rumah saja. Dari sekolah, guru  membuat rangkuman tugas selama satu minggu. Setelah itu, Reslita harus mengantarkan tugas tersebut ke rumah wali murid yang tidak memiliki jaringan internet dengan memperhatikan protokol kesehatan baik pakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Saya bawakan tugasnya. Dikerjakan selama 1 minggu. Nanti kalau sudah (selesai), saya ambil lagi ke rumah mereka,” terangnya.

Ya saat ini saya mengambil tugas ada dua Siswa di Kelurahan Nusa dirumahnya Aluis Vico Takasilumang siswa SD kelas 1 yang berumur 15 Tahun dan juga Novendri Kiam Paudi SD Kelas 1 yang berumur 12 Tahun.

Kata Reslita, Kedua anak ini adalah Tunagrahita dimana anak – anak ini memiliki keterbelakangan mental, atau disebut juga dengan retardasi mental. Tunagrahita memiliki IQ yang di bawah rata-rata sehingga tingkat intelegensi mereka pun lebih rendah dari anak-anak lainnya.

Memang, diselimuti rasa waswas karena virus korona, tidak ada pilihan lain bagi Reslita. Satu minggu sekali, dia bolak-balik dari rumahnya ke kediaman anak didiknya. Biasanya, saat pergi, dia mengendarai sepeda motor sendirian.

“Sebenarnya agak cemas juga. Karena ada virus. Tapi harus saya lakukan demi anak-anak,” ungkap Reslita. Apalagi, tidak semua alamat sang murid dekat dari rumahnya. Yang paling jauh beralamat di Kelurahan Motto, Kecamatan Lembe Utara.

Jaraknya dari Sekolah sekitar 40 – 50 kilometer (km). “Saya memberikan tugas satu minggu sekali,” kata Reslita.

Selain jarak, Reslita juga menghadapi hambatan akses jalan. Seperti diketahui, jalan yang banyak tanjakan tajam karena bergunung tinggi dan jalan menurun tajam dan berbelok serta berlubang. Kalau sudah begitu, Risita akan berhati – hati melewati jalan ini setiap minggu.

Namun, tetap saja ada sisi positif dari aktivitas tersebut. Dengan menghampiri beberapa siswanya, Risita mengaku, dapat mengetahui kondisi dan perkembangan mereka. Dia bisa bertemu langsung dan melakukan interaksi. “Saat melakukan kunjungan itu, saya bisa tanya-tanya ke orang tuanya terkait perkembangan anak,” ujar Reslita.

Misalnya pertanyaan yang umum adalah,”Bapak-Ibu, apakah ada kendala?”. “Anaknya mogok belajar tidak?”. Dari wawancara tersebut, Risita dapat memantau kendala yang dihadapi muridnya. Apakah mengalami kesulitan dengan tugas yang diberikan atau tidak.

Itu berbeda dengan wali murid yang memiliki jaringan internet dan mempunyai HP. Sekolah akan memberikan tugas setiap harinya. Dengan catatan, murid mengirimkan semua kegiatan di rumah dalam bentuk dokumentasi foto dan video. “Setiap hari saya memberi tugas ke mereka yang punya WA. Saya juga tanya ke orang tua mereka apakah ada kendala. Kalau ada, saya minta konsultasikan ke saya,” kata Reslita.

Penulis : Julkifli Madina