Rusaknya Waruga Seperti Menghancurkan Peradaban

by
Diskusi Ilmiah yang diselenggarakan oleh AMAN dan Jurusan Ilmu Sejarah, FIB Unsrat Manado, Senin (13/08/2018).

Manado – Pembangunan waduk di Kuwil, Minahasa Utara yang berdampak pada rusaknya waruga di kawasan tersebut mendapat reaksi dari sejumlah pegiat kebudayaan dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulut.

“Waruga di masa lalu bukan sekadar kuburan. Tapi tempat singgah. Hari ini orang mengatakan itu kuburan,” papar Dr Ivan Kaunang MHum, akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unsrat Manado, dalam acara Diskusi Ilmiah yang diselenggarakan oleh AMAN dan Jurusan Ilmu Sejarah, FIB Unsrat Manado, Senin (13/08/2018).

Terkait rusaknya waruga, lanjut Ivan, diskusi ilmiah yang dilakukan itu bukan yang pertama sebagai langkah yang diambil. “Tiap hari kami atur waruga. Menata kembali. Karena apa yang dilakukan di lapangan belum dibawake ranah ilmiah, maka kami bawa ke kampus, dan bicarakan secara akademik,” papar Ivan.

Menurut dia, pengrusakan terhadap situs budaya di juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia. “Terkait ini, AMAN melalui advokasi hukum menyikapihal tersebut,” papar Ivan.

Sementara itu, akademisi dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) Tomohon, Denni Pinontoan MTeol mengatakan, pengrusakan waruga dilakukan atas nama pembangunan. “Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah pembangunan menjamin masa depan kita,” ujar Denni.

Dia menambahkan, rusaknya waruga dengan menggunakan buldoser menunjukan ada kekuatan kapitalis dalam sistem politik negeri ini yang menghancurkan peradaban.

Sebelumnya, Dekan FIB Unsrat, Drs FR Mawikere MHum MA mengatakan, perlu dicari solusi bersama antara pemerintah dan masyarakat adat terkait pemindahan waruga. “Perlu dibicarakan bersama, di mana lokasi yang tepat untuk penempatan kembali waruga itu. Ini masyarakat adat yang paham. Dengan demikian diharapkan bisa berjalan bersama, pembangunan yang tidak merusak situs budaya,” ujar Mawikere.

Dalam diskusi yang dipimpin moderator Rikson karundeng MTeol itu, hadir juga sebagai pembicara Drs Deddy Pangkey MHum dan Rinto Taroreh.

Jika Pangkey melihat waruga dari sisi estetis, maka Rinto memahami waruga sebagai penanda peradaban masa lalu. ”Untuk itu hargai, hormati dan jaga kelestarian warisan leluhur,” ujar Rinto.

 

Penulis: Yoseph E Ikanubun

tenor

Leave a Reply

Your email address will not be published.