Siti Aisa Kepala SLB Trikora Indah Bitung Bercerita Soal Pembelajaran Daring Dan Luring

by


Bitung, Kabarmanado.com – Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, menjadi tantangan tersendiri bagi guru – guru di SLB Trikora Indah Bitung.

Dimana, pembelajaran daring dan luring berbeda dengan sekolah yang lain. Pasalnya, Sekolah Luar Biasa (SLB) Trikora Indah Bitung harus bekerja maksimal dalam pembelajarannya agar para siswa berkebutuhan khusus ini bisa terlayani dengan baik.

” Ya di Sekolah kami ada anak yang berkebutuhan khusus yakni tunarungu 14 orang, tunagrahita 23 orang, tunadaksa 3 orang dan autis ada 3 orang,” Jelas Kepala SLB Trikora Indah Bitung, Siti Aisa Tanang, S.Pd, M.Pd Rabu (02/09).

Lanjut Siti, saat ini disekolahnya untuk jenjang SD ada 23 orang, SMP 15 orang dan jenjang
SMA 5 orang.

“Guru disini ada 6 orang dan ditambah honor 1 orang sebagai oprator sekolah serta saya ASN sebagai Kepsek,” Kata dia.

Lanjut Siti, paling banyak siswa disekolahnya belajar luring dan hanya sebagian kecil yang daring, ini karena selain tidak terjangkau jaringan internet, juga mereka tidak memiliki HP karena orang tua mereka kurang mampu,” Kata Siti.

Memang kata Siti, para siswanya ada yang tinggal di Kecamatan Lembe Utara dan Lembe Selatan, dimana dua Daerah ini hampir semua Kelurahannya tidak terjangkau jaringan Internet.

Foto : Reslita Soda saat mengambil hasil Siswa dan memberikan penjelasan soal tugas yang baru kepada kedua Siswa Tunagrahita saat pembelajaran luring Rabu (02/09).


“Ya kalau mau ke benerapa Kelurahan dua Kecamatan ini harus menempuh 40 – 60 Kilometer atau 1- 2 jam perjalanan dengan melewati gunung dan jalan berlubang,” Jelasnya.

Lanjut Siti, Disini para guru ada yang tinggal di Daratan Kota Bitung dan ada juga tingga di Pulau Lembe.

“Guru yang tinggal di Daratan Kota Bitung harus melewati laut menuju Sekolah dengan menaiki perahu penumpang dari Ruko Kota Bitung dengan waktu 20 menit dan membayar 5 ribu per orang,” Katanya.

Foto : Ocen Hilda Lun Guru Bahasa Isyarat saat pembelajaran luring di Rumah siswa Tunarunggu Meldo Malintoy di Kelurahan Motto.

Pembelajaran sudah ada jadwal setiap guru baik daring dan luring dimana untuk luring Senin sampai Kamis para guru membawah tugas kerumah siswa dengan memperhatikan protokol kesehatan baik pakai masker, menvuci tangan dan menjaga jarak dan jumat baru semuanya berkumpul di Sekolah sambil kerja bakti bersih – bersih,” Jelas Siti.

“Untuk proses pembelajaran daring para guru dan siswa kami bantu berikan paket kuota internet dan khusus luring para guru kami fasilitasi dengan menyediakan kendaraan roda dua atau motor sampai mengisi bahan bakarnya,” Kata beliau.

Memang diakuinya, Selama ini di Pulau Lembe banyak anak-anak yang berkebutuhan khusus tidak menikmati pendidikan atau putus sekolah dan dengan adanya SLB mereka sangat senang bisa dilayani dan bisa belajar.

“SLB ini berdiri sejak 2017 lalu dan sampai sekarang terus eksis memberikan pelayanan pendidikan bagi anak kebutuhan khusus, walaupun fasilitas masih banyak yang kurang yakni ruang kelas SMP, SMA, Ruang ketrampilan, WC dan Fasilitas Komputer serta lainnya,” Ungkap Siti.

Dijelaskannya, dirinya bersama suaminya terpanggil membangun SLB di Pulau Lembe karena ingin membantu anak – anak disini yang berkebutuhan khusus yang sangat perlu mendapatkan pendidikan yang layak.

” Ya ini adalah motivasi kami membangun SLB di Pulau ini dan juga dulunya kakak saya juga adalah Tunagrahita maka saya terpanggil ingin membantu kakak dengan kuliah di Unima jurusan pendidikan khusus Anak berkesulitan Belajar dan Tunarunggu,” Kata Siti.

Dia pun berharap agar orang yang lain juga mempunyai motovasi yang sama ingin membantu sesama dengan ikhlas dan tanpa mengharapkan imbalan.

Penulis : Julkifli Madina