SMPN 2 Manado Terus Kembangkan Gerakan Literasi

by
Kepala SMP Negeri 2 Manado, Steven S Tumiwa SPd MPd

Manado – Saat ini, budaya literasi sudah semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia, seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang digital.

Kepala SMP Negeri 2 Manado, Steven S Tumiwa SPd MPd mengatakan, pendidikan berbasis budaya literasi, termasuk literasi digital, merupakan salah satu aspek penting yang telah diterapkan di sekolahnya, guna memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri para siswa. “Penguasaan literasi yang tinggi tentunya tidak boleh mengabaikan aspek sosiokultural, karena literasi merupakan bagian dari kultur atau budaya manusia,” katanya.

Menurut Steven, saat ini pendidikan literasi yang dilakukan di Indonesia, ditengarai belum mengembangkan kemampuan berpikir tinggi, atau HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang meliputi kemampuan analitis, sintesis, evaluatif, kritis, imajinatif, dan kreatif. “Saat ini di banyak sekolah, kegiatan membaca belum mendapatkan perhatian yang mendalam, terutama di mata pelajaran non-bahasa. Ketika mempelajari konten mata pelajaran normatif, adaptif dan produktif, guru kurang menggunakan teks materi pelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir tinggi tersebut,” jelasnya.

Dia menambahkan, keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan, karena pengetahuan diperoleh melalui membaca dan oleh karena itu, keterampilan ini harus dikuasai peserta didik dengan baik sejak dini. “Rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan belum mengembangkan kompetensi dan minat peserta didik terhadap pengetahuan,” ungkapnya.

Memang diakuinya, praktik pendidikan yang dilaksanakan di banyak sekolah selama ini juga memperlihatkan bahwa sekolah belum berfungsi sebagai organisasi pembelajaran yang menjadikan semua warganya sebagai pembelajar sepanjang hayat. “Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, maka sekolah kami telah mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah,  dimana GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah yang meliputi guru, peserta didik, orang tua/wali murid dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan,” papar Steven.

GLS menurutnya, adalah untuk memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. “Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai,” terangnya.

Kata Steven, kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik.

 

Penulis: Zulkifli Madina

Leave a Reply

Your email address will not be published.