Suara untuk Marsinah Menggema dari Minahasa

by
Khofifah, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Minahasa, yang membawakan puisi “Dongeng Marsinah” karya Sapardi Djoko Damono.

Tondano – Bagi kalangan aktivis dan buruh, nama Marsinah tak asing lagi. Perempuan kelahiran 10 April 1969 ini simbol perlawanan terhadap kekuasaan dan pemilik modal.

Marsinah adalah seorang aktivis dan buruh pabrik Jaman Pemerintahan Orde Baru, berkerja pada PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Dia diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Mayatnya ditemukan di hutan di dusun Jegong, desa Wilangan dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat.

Marsinah memperoleh Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun yang sama. Kasus ini menjadi catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO), dikenal sebagai kasus 1773.

Lebih kurang 26 tahun sudah kepergian Marsinah, namun pekik perjuangan Marsinah masih menggema. Bahkan jauh dari tanah kelahirannya, di Jawa sana.

Sabtu (12/01/2019) malam, di Café Popay, Tataaran, Kecamatan Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, semangat perjuangan dan perlawanan Marsinah nyaring terdengar. Membelah malam, menembus suara gerimis hujan yang turun.

Adalah Khofifah, aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Minahasa, yang membawakan puisi “Dongeng Marsinah” karya Sapardi Djoko Damono.

Diiringi petikan gitar, Khofifah mampu membuat hening puluhan peserta yang hadir dalam kegiatan Malam Bacirita PMII Cabang Minahasa tersebut.

Berikut petikan puisi “Dongeng Marsinah”:

Marsinah buruh pabrik arloji,
mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi:
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.
Marsinah itu arloji sejati,
tak lelah berdetak
memintal kefanaan
yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak, sebutir nasi.”

Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
ia hanya suka merebus kata
sampai mendidih,
lalu meluap ke mana-mana.
“Ia suka berpikir,” kata Siapa,
“Itu sangat berbahaya.”

Marsinah tak ingin menyulut api,
ia hanya memutar jarum arloji
agar sesuai dengan matahari.
“Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
“dan harus dikembalikan
ke asalnya, debu.”

Di hari baik bulan baik,
Marsinah dijemput di rumah tumpangan
untuk suatu perhelatan.
Ia diantar ke rumah Siapa,
ia disekap di ruang pengap,
ia diikat ke kursi;
mereka kira waktu bisa disumpal
agar lengkingan detiknya
tidak kedengaran lagi.

Ia tidak diberi air,
ia tidak diberi nasi;
detik pun gerah
berloncatan ke sana ke mari.
Dalam perhelatan itu,
kepalanya ditetak,
selangkangnya diacak-acak,
dan tubuhnya dibirulebamkan
dengan besi batangan.

Detik pun tergeletak,
Marsinah pun abadi.

Di hari baik bulan baik,
tangis tak pantas.
Angin dan debu jalan,
klakson dan asap knalpot,
mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
Semak-semak tak terurus
dan tak pernah ambil peduli,
meregang waktu bersaksi:
Marsinah diseret
dan dicampakkan-
sempurna, sendiri.

Pangeran, apakah sebenarnya
inti kekejaman? Apakah sebenarnya
sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
hakikat kemanusiaan, Pangeran?
Apakah ini? Apakah itu?
Duh Gusti, apakah pula
makna pertanyaan?

“Saya ini Marsinah,
buruh pabrik arloji.
Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
ke dunia lagi; jangan saya dikirim
ke neraka itu lagi.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia sudah paham maksudnya.)

“Sengsara betul hidup di sana
jika suka berpikir,
jika suka memasak kata;
apa sebaiknya menggelinding saja
bagai bola sodok,
bagai roda pedati?”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
ia biarkan gerbang terbuka.)

“Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
wanita berotot,
yang mengepalkan tangan,
yang tampangnya garang
di poster-poster itu;
saya tidak pernah jadi perhatian
dalam upacara, dan tidak tahu
harga sebuah lencana.”

(Malaikat tak suka banyak berkata,
tapi lihat, ia seperti terluka.)

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini;
dirabanya denyut nadi kita,
dan diingatkannya
agar belajar memahami
hakikat presisi.

Kita tatap wajahnya
setiap pergi dan pulang kerja,
kita rasakan detak-detiknya
di setiap getaran kata.

Marsinah itu arloji sejati,
melingkar di pergelangan
tangan kita ini.

Petikan gitar terhenti, tepuk tangan aktivis mahasiswa menggema. Membangkitkan kembali semangat perlawanan terhadap tindakan semena-mena terhadap rakyat kecil.

Penulis: Yoseph E Ikanubun

tenor

Leave a Reply

Your email address will not be published.