Tambang Emas PT MSM dan TTN Keluarkan Panas Bumi?

by
Pertemuan antara Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Sulut bersama tim ahli panas bumi dan akademisi dari Unsrat Manado sertaPT MSM dan PT TTN.

Manado – Energi Panas Bumi (Geothermal Energy) adalah energi panas yang tersimpan dalam batuan di bawah permukaan bumi. Diduga muncul di pertambangan emas PT MMP dan TTN Likupang, Minahasa Utara.

Ini dibuktikan dengan adanya pertemuan antara Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Sulut bersama tim ahli panas bumi dan akademisi dari Unsrat Manado. Mereka bertemu perusahaan penambang emas PT MSM dan PT TTN di Hotel Ibis, Rabu (15/08/2018) dalam pembahasan pembuatan AMDAL baru atau Adendum ANDAL dan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) serta Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).

Dalam dengar pendapat tersebut pihak ahli panas bumi lulusan dari ITB Hendra mengungkapkan, sangat perlu ada kajian terlebih dahulu untuk memantau sumur pantau milik perusahaan tambang. “Kolam pembuangan limbah air sudah ditambah dengan air panas, jangan sampai kandungan air panas yang diduga mengandung logam berat tersebut akan dibuang ke laut melalui pipa. Ini sangatlah beresiko bagi kelangsungan hidup biota laut,” ungkap dia dalam dengar pendapat yang dipimpin langsung Kadis DLH Sulut, Marly Gumalag.

Kata Hendra, jangan sampai pihak perusahaan tambang hanya mengeluarkan masalah tapi tidak ada solusinya.

 

” Saat ini sangat perlu ada kajian masalah keluarnya air panas pada area pertambangan tersebut dan saya tidak menyetujui permohonan ini karena dampaknya tidak dijelaskan dari awal sejak akhir,” kata dia.

Sementara menurut Prof Dr Jhoni Tasirin dari Unsrat, memang area pertambangan tersebut adalah kawasan hutan lindung dan sangat mengecewakan hutan lindung bisa dijadikan areal pertambangan. “Ada dua pertambangan di Sulut yang disetujui gubernur untuk dilanjutkan pertambangan dan satu diantaranya PT MSM dan PT TTN di Likupang,” jelasnya.

Tasirin mengatakan, untuk panas bumi yang disertai air panas yang muncul di pertambangan emas PT MSM dan PT TTN di likupang tidak bisa dijadikan kawasan pariwisata permandian. “Dalam hasil penelitian ITB di beberapa tempat di Likupang tidak bisa dijadikan tempat wisata permandian. Malahan di gunung dua sudara tangkoko yang bisa digunakan,” ungkapnya.

Sementara Dekan Fakultas Teknik Unsrat, Prof Dr Ir Fabian Johanes Manopo menyampaikan, penampungan tailing atau limbah tambang yang akan tercampur dengan air panas yang keluar dari panas bumi hasil pertambangan yang diduga berbahaya akan masuk ke sumur – sumur warga.”Memang dalam penelitian, dalam 5 tahun menampung air panas sudah bisa turun airnya menembus 20 meter ke bawah dan seterusnya air tersebut tetap akan menembus ke sumur masyarakat. ¬†Kalau tidak ada kontrol buangan tailingnya maka akan sangat cepat sampai ke kampung,” ungkapnya.

Gumalag menjelaskan, harus ada kajian hidrologi yaitu meneliti air di permukaan bumi/tanah, di bawah tanah, termasuk mata air, air tanah apakah panas bumi yang dikeluarkan ini berbahaya atau tidak. “Memang kalau suhu panasnya 130 cc tidak bisa digunakan untuk panas bumi dibuat pembangkit listrik dan kalau 250 cc barulah bisa,” kata dia.

Kata Gumalag, kalau dalam penelitian tidak ada yang  berbahaya maka air panas tersebut bisa digunakan tempat wisata permandian dan pembangunannya dilakukan pihak perusahaan. Sedangkan pengelolaannya dilakukan secara mandiri dan profesional oleh masyarakat sekitar.

Sementara pihak PT MSM dan PT TTN ketika dimintai keterangannya di pertemuan tersebut tidak mau berkomentar.

 

Penulis: Zulkifli Madina

tenor

One thought on “Tambang Emas PT MSM dan TTN Keluarkan Panas Bumi?

Leave a Reply

Your email address will not be published.