Waruga, dan Tragedi Wabah Cacar 2 Abad Lalu di Minahasa

by
Diskusi ilmiah yang digelar di ruang teater FIB Unsrat Manado ini dihadiri ratusan mahasiswa dan sejumlah kalangan pemerhati budaya dan sejarah.

Manado – Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bekerjasama dengan Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unsrat Manado, Senin (13/08/2018), menggelar diskusi ilmiah dengan mengangkat tema, Waruga Mau ke Mana?

Diskusi ilmiah yang digelar di ruang teater FIB Unsrat Manado ini dihadiri ratusan mahasiswa dan sejumlah kalangan pemerhati budaya dan sejarah. Tampil sebagai pembicara, Dekan FIB Unsrat Manado, Drs FR Mawikere MHum MA, Denni Pinontoan MTeol (Akademisi UKIT), Dr Ivan Kaunang MHum (dosen FIB Unsrat), Tonaas Rinto Taroreh (pegiat budaya), Drs Deddy Pangkey MHum (akademisi). Diskusi yang berlangsung menarik ini dipandu moderator Rikson Karundeng MTeol.

Mawikere tampil pertama memaparkan materinya dalam tiga tinjauan waruga di masa silam, kondisi saat ini, serta bagaimana masa depannya. “Waruga ini berupa kotak batu, dengan ukuran 1×1 meter. Merupakan kuburan kuno leluhur Minahasa,” ujar Mawikere.

Dia mengungkapkan, tradisi menguburkan warga di waruga ini mulai lenyap sekitar 2 abad silam. “Di tahun 1819 ada wabah penyakit cacar yang menyebabkan kematian hampir seperenam warga Minahasa,” ungkap dia.

Menurut Mawikere, saat itu jumlah penduduk Minahasa ada 76 ribu, sedangkan yang meninggal akibat wabah cacar mencapai 12.600 jiwa. “Dalam kondisi seperti ini, siapa lagi yang bikin waruga. Seiring dengan peristiwa itu, proses injilisasi di Minahasa mulai berkembang. Sehingga dibuatlah kubur seperti sekarang,” papar dia.

Sejak peristiwa itu, lanjut dia, tradisi waruga mulai ditinggalkan. Sedangkan para mantri Belanda yang datang bersama pengunjil mulai memperkenalkan cara mengatasi penyakit cacar. “Kepercayaan penduduk pada mantri kesehatan yang dibawa penginjil ini lebih besar, ketimbang pada Walian yang selama ini menangani kesehatan warga,” Mawikere sambil menambahkan hal ini juga yang menyebabkan injil dengan mudah masuk ke Minahasa.

Sementara itu, Tonaas Rinto dalam pemaparannya mengatakan, waruga tidak hanya sekadar kubur kuno. “Waruga itu rumah jiwa. Kubur leluhur Minahasa. Untuk orang Minahasa tersimpan pengetahuan, ingatan,” ujar Rinto.

Dia mengatakan, waruga itu jika diibaratkan sebagai pohon maka ia adalah akar. “Akar dari kehidupan yang ada sekarang. Jika akar itu dimusnahkan, tentu berdampak pada kehidupan saat ini,” papar Rinto.

Diskusi yang berlangsung sekitar 3 jam ini berjalan seru dan mendapat tanggapan dari peserta yang hadir. Ketua AMAN Sulut, Rivo Gosal mengatakan, kegiatan itu merupakan bentuk respon terhadap polemik yang terjadi belakangan ini terkait penggusuran waruga di kampung Kuwil, Minahasa Utara.

 

Penulis: Yoseph E Ikanubun

tenor

Leave a Reply

Your email address will not be published.