Wisata Alam Liar

by

SALAH satu sesi yang sangat menarik bagi saya saat mengikuti studi singkat di Griffith University Gold Coast, Australia bersama para penerima Australia Award Indonesia 2018 Sustainable Tourism Development yakni sesi yang membahas bagaimana ‘wildlife’ (alam liar) menjadi suatu atraksi wisata yang berkembang sangat pesat di negara yang juga benua ini. Pemaparan pemberi materi, Ms. Ronda Green, Chair Wildlife Tourism Australia, begitu menarik dan menggambarkan bagaimana flora dan fauna liar yang ada di Australia menjadi daya tarik wisata baik turis lokal maupun internasional dan ditangani secara profesional.

Awalnya saya sedikit bertanya-tanya bagaimana cara tour operator/bisnis ini dapat dilakukan untuk membawa turis menikmati alam liar yang menurut saya sangat berbahaya? Mungkin geografis dan struktur alam liar tidaklah begitu menakutkan malahan ini akan menjadi suatu adventure tourism (wisata petualangan). Yang perlu dipertanyakan bagaimana penanganan disaat turis diperhadapkan dengan hewan liar/buas yang berbahaya seperti ular, buaya ataupun kangguru liar? Jelas, tentunya wisata wild tourism ini tidak akan tercipta jika tidak ada demand ataupun market untuk itu. Hal inilah yang menjadi awal bagaimana wisata wild tourism yang dikembangkan tour operator di Australia.

Saya sempat berdiskusi singkat dengan pemberi materi sesudah selesai presentasinya, bagaimana cara mereka menangani wisata ini serta peran sumber daya manusia yang sangat penting dalam mendukung suksesnya kegiatan atau bisnis wisata ini. Dalam diskusi beliau memaparkan bahwa memang mereka membutuhkan tenaga pengemudi yang memiliki multiskills yang dapat juga menjadi guide ataupun first aid person (tenaga medis untuk pertolongan pertama) dan jika diperlukan dalam setiap perjalanan wisata alam liar ini, rombongan turis akan didampingi salah satu tenaga ahli dalam bidang medis ataupun yang paham tentang perilaku hewan.

Permintaan akan wisata alam liar ini terus meningkat di Australia seiring dengan munculnya beragam wisata alternatif. Tentunya, perhatian dan peran pemerintah untuk melindungi satwa dan tumbuhan liar sangat diperlukan dalam menunjang sukses wisata alam liar ini. Cara nyata yakni dengan mengeluarkan undang-undang perlindungan flora dan fauna yang pasti mendukung program sustainable tourism development (perkembangan pariwisata berkelanjutan).
Pembicaraan saya dengan Ms. Green langsung terarah pada adaptasi wisata alam liar ke wilayah Sulawesi Utara. Saya sampaikan bahwa keberagaman flora dan fauna di wilayah Minahasa dan sekitarnya tidaklah kalah dengan yang dimiliki Australia. Tentunya, wisata alam liar pasti akan menjadi suatu yang menarik untuk diadaptasi di sini.

Di saat kami berbincang bagaimana cara mengadaptasi teknik penanganan jenis wisata ini, pikiran saya langsung tertuju pada pasar ekstrim yang ada di Tomohon, di mana pasar ini menjual beragam satwa liar yang dapat di-‘hunting’ di hutan Minahasa. Apakah wisata alam liar ini bisa diterapkan? Sedangkan satwa liar ini diburu untuk dikonsumsi atau menjadi penopang ekonomi masyarakat yang harus mencari nafkah dengan berjualan daging satwa liar.
Saya utarakan pikiran saya kepada Ms. Green bahwa ‘kayaknya’ penerapan wisata alam liar akan sedikit mengalami kesulitan jika diterapkan di Minahasa dikarenakan objek wisata (tourist attraction) yang berasal dari para satwa dan tumbuhan liar mungkin akan semakin berkurang populasinya dikarenakan mereka diburu untuk dikonsumsi atau diuangkan. Ms. Green ternyata telah mengetahui fenomena ini melalui liputan media bahkan pengalaman pribadi beliau saat berkunjung di beberapa wilayah di Asia, khususnya Asia Tenggara. Beliau sangat menyayangkan hal ini terjadi namun dapat juga memahami bahwa masyarakat memang butuh suatu source of life (sumber penghasilan) yang menopang ekonomi.

Kami terus terlibat dalam perbincangan yang asyik tentang strategi bagaimana untuk dapat menggiatkan wisata alam liar ini. Memang perlu suatu kesadaran masyarakat yang tinggi bahwa satwa dan tumbuhan liar yang ada harus dilestarikan dan perlu untuk di’pugar’ keberadaannya. Masyarakat sangat perlu diberikan pemahaman dampak positif dari keberadaan satwa dan tumbuhan liar bagi mereka. Hal ini butuh sosialisasi yang intensif dan keterlibatan aktif berbagai pihak. Pariwisata harus memberikan dampak nyata dan berkontribusi positif terhadap ‘well-being’ (keberadaan masyarakat yang baik) dan perbaikan ekonomi bagi masyarakat sendiri. Hanya dengan inilah masyarakat akan turut berperan aktif membantu peningkatan perkembangan pariwisata khususnya pariwisata berkelanjutan.

Saya pernah mem’posting’ video saat menyaksikan beratus kelelewar (paniki: Bahasa lokal) yang kembali untuk beristirahat di sebuah pohon besar di depan hotel di mana saya nginap di Kota Cairns. Saya hanya bisa tersenyum melihat begitu banyaknya paniki dengan bebas bergantungan dari cabang satu ke cabang lainnya. Apakah mereka akan selamat jika bergelantungan di Sulawesi Utara, khususnya di Tanah Minahasa? I don’t think so. They will be soon cooked with coconut milk mixed with local spices. Namun, di Australia, paniki ini dilindungi dan tidak bisa sembarangan memburunya jika tidak ingin berurusan dengan hukum.

Semoga saja, wild tourism dapat juga diterapkan di Sulawesi Utara dan pariwisata di tanah nyiur melambai ini semakin hari semakin berkembang. Dibutuhkan kesadaran dan komitmen seluruh stakeholders untuk mengadaptasi apa yang dilakukan oleh Wildlife Tourism Australia agar pariwisata kitapun bisa semakin maju dan berkelanjutan. Semoga.(***)

Oleh: Teddy Tandaju
Dosen Fakultas Pariwisata, Unika De La Salle Manado

tenor

5 thoughts on “Wisata Alam Liar

Leave a Reply

Your email address will not be published.